Surya HR Hesra

Pendengar Akut

Posted by: suryahrhesra on: 8 November 2009

Siapa tidak ingin didengar? Berdasar pengamatan yang tentu masih terbatas, saya mendapati bahwa semua orang ingin didengar. Apapun yang mereka ucap, apapun yang mereka rasa, apapun yang mereka bagi.

Saya adalah pendengar yang akut (nanti saya jelaskan, mengapa), kendati jika sudah berbicara terkadang juga menjadi sangat bawel.

Dua tahun terakhir selama saya tinggal di Jogjakarta, saya membebaskan diri dengan berjalan-jalan seorang diri di sepanjang Malioboro. Apa yang saya perbuat? Sederhana, mendengar!. Saya senang duduk sembari mengobrol dengan bapak penjual gulali, salah satunya Pak Mamat yang sudah sejak tahun 90an berjual gulali keliling dan selama lebih 10 tahun, hanya menerobos inovasi dari warna gulali saja, untuk bentuk, tak jauh berbeda.

Begitu pula dengan Pak Kemat, seorang seniman angklung difabel yang biasa bekerja di depan salah satu hotel terkemuka di bilangan Malioboro. Jangan dikira Pak Kemat tidak terkenal, karakter yang dibangun Pak Kemat cukup kuat, siapapun yang pernah berjalan melewati lorong sepanjang Malioboro sayap timur itu, tentu kemungkinan besar pernah bertemu. Orang tidak akan menyangka jika beliau difabel mata dan telinga. Permainan angklung-nya luar biasa. Tentu timbul pertanyaan, jika memang sedemikian luar biasa, kenapa dia masih bertahan di jalan? Aha! Itu semata pilihan (haha! betapa senangnya saya dengan kalimat ini :p)

Baca entri selengkapnya »

Alegro

Posted by: suryahrhesra on: 1 November 2009

Adakah sebuah kebetulan dalam hidup ini? Saya tidak percaya itu, kendati seringkali dalam beberapa hal, saya menyebutkan sebagai sebuah kebetulan. Tidak ada sebuah kebetulan yang sempurna dalam hidup, saya yakini itu. Setiap apapun itu, membawa pesannya tersendiri, termasuk pertemuan dengan seseorang.

Masih dalam bilangan dua minggu lalu, saya terlibat suatu acara di sebuah Hotel berjaringan se-Indonesia, di Pontianak. Seorang pekerja hotel melitas di hadapan, lantas saya sapa, “Mas, bisa saya minta air mineral?”. “Oh, tentu saja,” jawabnya ringkas, lantas berlalu dan tak sampai dua menit, kembali lagi, member saya sebotol kecil air mieral.

“Nggak ngopi saja, Mbak?,” katanya sambil menyodorkan air mineral itu. Saya tersenyum, pagi itu memang belum segelaspun.  “Nanti saja,” jawab saya. “Kalau Mbak mau, saya ambilkan, tanpa gula kan?,” sambarnya.  Spontan saya mengerutkan dahi.

Seakan mengerti pertanyaan dalam benak saya, yang tak sempat keluar, bagaimalna dia bisa tahu? Dia menjawab dengan sebuah senyuman dan berlalu. Dan tidak sampai lima menit kemudian, dia sudah kembali dengan secangkir kopi di nampan. “Dari semalam saya perhatikan, hanya Mbak yang minum tanpa gula,” kopi itu mulai berpindah tangan. Saya masih pasang senyum, tanpa bisa berkata.

“Alegro, Mbak… memang lebih kentara tanpa gula,” ucapnya lagi, memberi tabik lantas berlalu meninggalkan saya. Tak sempat saya ucap terima kasih, hanya senyum masih mengembang. “Hem, Alegro…,” gumam saya sembari mencecap.

Baca entri selengkapnya »

Berapa Anggaran yang Anda Butuhkan untuk Berbelanja Buku?

Posted by: suryahrhesra on: 22 Oktober 2009

Tentu saja jawaban ini akan sangat variatif. Saya sangat salut pada mereka yang memang menyediakan anggaran khusus untuk buku secara periodik. Saya sendiri seringkali keteteran dalam hal ini. Dan lebih sayang lagi, karena kesadaran untuk membaca datang sudah cukup terlambat.
Semasa remaja, saya lebih senang megoleksi kaset. Parah, karena saat itu saya berpikir masih tinggal dengan orangtua dan menjadi parasit lajang (baca: Ayu Utami) maka saya tidak segan menghabiskan hingga 75% pendapatan demi membeli. Namun menginjak remaja akhir saat mulai membacai buku Pram, mulailah saya berpikir akan jauh sangat bermanfaat jika saya mengoleksi buku saja.

Peralihan ini bukan tanpa sebab, era digital saat ini menyebabkan pergeseran yang luar biasa akan segala hal yang berbau analog, diakui atau tidak. Terutama dalam hal musik. Jamak kita ketahui bersama, penjualan kaset merosot tajam sejak digantikan dengan cakram digital. Belum lagi kemudahan mendownload di internet.

Sehingga pengoleksian kaset, bisa tergantikan dengan penyimpanan di folder-folder MP3 di PC atau laptop. Ironisnya, tidak sedikit juga stasiun radio yang justru tak memiliki diskotik, ruang mirip perpustakaan yang isinya arsip lagu. Alasan tambahan, karena kaset yang telah lama tidak diputar, seringkali tidak bisa diputar, kondisi lembab membuatnya berjamur. Itu mengesalkan.

Maka dengan kebutuhan dan pemahaman baru, saya memilih mengoleksi buku saja, ketimbang kaset. Belum banyak dan belum ada yang bisa dibanggakan akan yang saya miliki.

Sekali lagi, berapa anggaran yang anda butuhkan untuk berbelanja buku?

Baca entri selengkapnya »

Perempuan: Pengabian Absurd hingga Kutukan Sishypus

Posted by: suryahrhesra on: 7 September 2009

Apa yang kalian pikirkan tentang hidup yang terjalani? Apakah hidup ini adalah sebuah pencapaian ataukah sebuah pengabdian? Saya yakin masing-masing dari kita memiliki definisi sendiri-sendiri.

Begitu juga dengan saya. Jika hidup didefinisikan sebagai sebuah pengabdian yang berwujud, maka sepertinya saya harus berpikir keras untuk memastikan bahwa itu bukan suatu hal yang absurd.

Kata pengabdian sangat identik dengan perempuan. Entah dimulai dari mana. Mungkin budaya Jawa yang mula-mula mengajarkan itu di Nusantara, karena sepengetahuan saya, hal berbeda justru terjadi pada etnis-etnis Dayak, misalnya. Perempuan Dayak bukan hanya akan bekerja dan mengabdi di rumah saja (dalam hal ini dipingit), tetapi mereka jauh lebih berperan dalam perladangan, pengihupan keluarga.

Tetapi, mengabdi, tetap saja mengabdi. Nilai pengabdian yang sama yang saya temukan ialah keluhuran untuk meluruhkan segenap hidupnya semata demi suami dan anak. Terkadang suami menjadi dominant ketimbang anak. Tetapi tentu, hal ini mengalami pergeseran ketika jaman menyatakan dengan jelas, bahwa anak merupakan asset yang sangat penting untuk sebuah keluarga itu sendiri.

Apakah keterbatasan gerak perempuan untuk keluar dari sekedar lingkup keluarga hanya terjadi di nusantara? Ternyata tidak juga. Feminisme di Amerika sendiri pun perlu melakukan sebuah gerakan besar yang berjudul perjuangan.

Amerika Serikat, Negara yang sepertinya telah merdeka dari apa saja itu ternyata mencatat nama-nama seperti Elizabeth Cady Stanton, dalam Konvensi Hak-Hak Perempuan di Seneca Fall New York (1848), Lucy Stone dalam Konvensi Hak-Hak Perempuan (1850). Yang mana kedua kelompok ini kemudian berkoalisi dalam Woman’s National Loyal League (1863) yang diketuai Susan Anthony, dan pada tahun 1878 menyerahkan amandemen Konstitusi Amerika untuk hak pilih perempuan di Amerika.

Bagaimana perjuangan untuk hal ini? Butuh waktu panjang, yakni selama 41 tahun untuk sebuah pencapaian dengan perjuangan panjang yang melelahkan. Akhirnya di tahun 1919, amandemen hak pilih perempuan itu disetujui. Dan setahun setelahnya, di tahun 1920, perempuan Amerika telah menggunakan hak pilih.

Bagaimana dengan perempuan Indonesia? Pada pemilihan pertama, yang berlangsung tahun 1955 dimana saat itu Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan diganti Burhanudin Harahap selaku Perdana Mentri. Pada pemilu pertama tersebut, perempuan Indonesia telah berhak menjadi pemilih.

Tentu jauh berbeda kondisinya jika kita membandingkan . Sehingga bukan saja diinsyafi, tetapi disepakati bahwa perempuan Amerika berada baris depan perjuangan pergerakan perempuan. Bahkan belakangan saat perempuan Indonesia berhasil menggoalkan quota 30 persen dalam pemerintahan, ternyata ini masih lagi belum diimbangi dengan kesediaan atau lebih tepat kesiapan para perempuan itu sendiri. Terbukti banyak daerah tidak berhasil mmenuhi quota 30 persen yang ditetapkan.

Gerangan apakah sebetulnya yang terjadi? Tentu perlu sebuah pengkajian dan penelitian yang serius mengenai berbagai kemungkinan jawaban. Saya tidak berada di ranah itu.

Kembali ke sebuah kata yang sangat menarik, pengabdian. Berasal dari kata abdi yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung pengertian orang bawahan, pelayan, hamba. Dan untuk kata pengabdian sendiri berarti proses, cara, perbuatan mengabdi atau mengabdikan.

Jika disebut bahwa abdi ialah pelayan, maka bisa diartikan bahwa pengabdian ialah melayani. Pengabdian yang kentara dilakukan perempuan menikah ialah mengabdi untuk keluarga, ada yang menyebutnya sebagai sebuah dedikasi. Ada pula yang menyebutnya sebagai kewajiban pacsa nikah, ada juga yang menyebut sebagai tuntutan agama dan lain sebagainya.

Tetapi, saya kuatir jikalau bentuk pengabdian ini hanya berpengertian absurd belaka. Pengertian mengabdi pada keluarga yang disikapi dan difahami secara sempit, bukankah justru menjebak definisi pengabdian itu sendiri?

Manusia dilahirkan dengan dua hubungan besar yang tidak bisa dibantah, dalam ajaran Islam kita mengenal Habluminallah dan Habluminannas. Hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dan manusia. Dalam hal ini, manusia tidak akan terlepas dari kewajiban-kewajiban vertical.

Kewajiban vertical ini merujuk manusia, termasuk perempuan karena perempuan juga manusia untuk mengabdi tidak hanya pada lingkup terdekatnya saja. Keterbatasan pengabdian yang terbatas hanya pada rumah tangga, bukan tidak mungkin membuat perempuan terjebak di dalamnya. Padahal, perempuan tetap punya kewajiban untuk mengabdi terhadap sesame, dalam bentuk yang beragam tentunya.

Dominasi lelaki atau kesepakatan mainstream tak tertulis, seolah menyepakati pengabdian absurd ini menjadi legal. Kalau demikian hal-nya, apa bedanya dengan kutukan Sishypus dalam mitologi Yunani?

Bayangkan kehidupan perempuan menikah sehari-harinya. Bangun tidur dia sudah dihadapkan dengan rutinitas rumah yang itu-itu saja, dengan ritme yang melulu begitu . Rutinitas? Saya lebih cenderung menyebutnya jebakan. Sebuah rutinitas dapat dijalankan berdasar pilihan, tetapi tidak demikian dengan pengkondisian sebagai Ibu rumah tangga yang mutlak harus di rumah dengan dalih keharusan agama, misalnya.

Maka logika saya, menyatakan kondisi ini sama saja dengan kutukan Sishyphus dalam mitologi Yunani. Dimana Sishypus dikutuk memikul bongkah batu besar dan membawanya ke atas bukit hanya untuk menyaksikan batu itu terjatuh, lalu ia akan turun lagi mengangkut batu besar itu kembali demi mlihat batu itu menggelinding, begitu seterusnya. Bukankah ini sebuah jebakan kalau terlalu ekstrim disebut kutukan?

Prempuan butuh ruang, untuk mengapresiasi diri. Untuk siapa? Tentu saja untuk rumah tangga itu sendiri.

Salam,

Surya HR Hesra

(Pontianak,  7 Sept 2009, 09:19)

Latah Paten dan Hak Cipta

Posted by: suryahrhesra on: 21 Agustus 2009

Tidak perlu latah hari ini.

Belum tuntas perkara catut mencatut Batik, Angklung, Reog Ponorogo, Indang Sungai Geringging, hingga masalah Ambalat yang tak juga berujung berpangkal, kali ini giliran Tari Pendet. Tentu ini menimbulkan reaksi yang sekejap saja mampu menyulut emosi. Aih, warga Negara republik Indonesia ini memang gampang betul tersambar api amarah kiranya, kalau boleh dengan ceroboh saya menyatakan demikian.

“Malaysia is truly Asia”. Gaung itu mamang betul-betul kentara, sehingga dari kredo-nya saja, paling tidak kita bisa sedikit menyimpulkan: jika tak sanggup menyusuri seluruh Asia, cukuplah datang ke Malaysia.

Memang harus diakui beragam suku bangsa kumplit di Negara ini, terutama untuk kumpulan Asia. Indonesia-pun menyumbang tidak sedikit penduduk di sana. Mulai dari pelajar hingga pekerja baik professional aupun ilegal (mau apapun tingkat pekerjaan mereka, mereka tetap pekerja, TKI).

Jika mendengar sekilas berita mengenai ulah Malaysia ini, memang kontan membuat jengkel juga. Tetapi sebentar, sepertinya kita juga tidak boleh menjadi gegabah latah hari ini.

Tentu masih segar dalam ingatan ketika tempe dipatenkan oleh Jepang. Lantas ada juga sesumbar isu, Batik Indonesia dipatenkan! Apakah demikian juga hal-nya dengan Tari Pendet yang sudah terlanjur masuk dalam bagian promosi wisata Malaysia?

Tapi sebentar, samakah arti dari paten dan hak cipta?

Dalam KBBI, Hak Cipta adalah hak yang melekat seketika atas karya yang dihasilkan seseorang. Sementara Paten adalah hak yang diberikan pemerintah kepada seseorang atas suatu penemuan untuk digunakan sendiri.

Apa yang terbaca di sini? Sangat jelas. Hak cita lebih bersifat personal. Siapaun bisa mendaftarkan hak ciptanya dengan prosedur yang tidak berbelit, pendaftaran Hak Cipta kepada Dirjen HKI (Hak Cipta Indonesia) hanya membutuhkan biaya Rp. 75.000 per item. Lantas dari sana, seorang pendaftar akan memperoleh surat keterangan terdaftar dengan nomor registrasi.

Lantas paten? Sangat berbeda, karena proses yang diperlukan untuk mematenkan sesuatu cukup panjang, bisa memakan waktu setahun lamanya. Awalnya, perlu mendaftar secara lokal, baru kemudian dibawa ke tingkat dunia. Selain prosedur yang panjang, biayanya pun tidak sedikit. Kelayakan pematenan pun akan dikembalikan kepada Dirjen HKI setelah dari sana.

Akankah Tari Pendet dipatenkan Malaysia seperti yang dikuatirkan rakyat Indonesia? Seperti halnya Batik Indonesia yang silam banyak sekali ditulis di berbagai milis, media cetak maupun elektronik bakal dipatenkan. Rasanya tidak cukup tepat juga menyebut demikian. Tanpa menuduh, tetai sepertinya jurnalis sendiri belum begitu faham perbedaan dasar pengertian antara hak cipta dan paten itu.

Dalam budaya dunia, kita tidak bisa mengesampingkan kemiripan demi kemiripan yang seringkali bahkan kita temui antara bangsa satu dan lain. Contoh paling mudah kita jumpai adalah ceritera Ramayana. Apakah cerita ini hanya milik India saja? Atau milik orang-orang Jawa belaka? Tidak bukan..

Tetapi akan kita temui banyak sekali versi Ramayana dalam tiap pertunjukan belakangan ini. Missal, dalam pementasan Ramayana versi Bali, nampak sekali gaya stilir dalam sikap serta gerakan, dan salah satu ciri khas tari Bali adalah gerakan mata seperti mengerling, menatap, memandang, serta ekspresi wajah yang tersenyum, marah, atau tenang. Ciri-ciri inilah yang membedakan tari Bali dengan gaya tari klasik lainnya di Indonesia.

Pada versi Yogyakarta, lebih menyerupai wayang wong, dimana pertunjukan memerlukan seorang dalang yang membacakan kanda (jalan ceritanya). Digambarkan dalam perang menolong Sinta, Rahwana harus berhadapan dengan Jatayu (burung Garuda yang besar).

Yang menarik lainnya ialah, gerak selain adegan perang, semua gerak dilakukan dengan jengkeng di atas lutut. Hal ini berkaitan dengan sejarah bahwa tari tradisional ini semula hanya dipertontonkan di dalam Keraton saja. Baru setelah 1918 atas izin Sultan HB VII, dengan mendirikan sekolah tari Krida Beksa Wirama, wayang wong dan tari klasik seperti Bedhaya dan Serimpi dipelajari diluar keraton.

Masih ada pula Ramayana versi Jawa Timur-an, versi Birma, versi Thailand, versi Malaysia, dan tentu dari negara asalnya India. Apakah India lantas mencak-mencak dengan persamaan dan perbedaan ini? Tidak bukan? Mengetahui bahwa Ramayana selain karya Walmiki, konon di India sendiri kira-kira ada 2300 versi Ramayana, tidaklah mengherankan bila penyebarannya di Asia Tenggara terdapat versi-versi baru yang agak berlainan dari yang asli.

Bukan hanya masalah pertunjukan atau versi Ramayana saja, tetapi masih banyak contoh lain. Contoh lain adalah budaya wayang serta gamelan antara Jawa dan Thailand. Menurut musikolog Belanda, Dr. Jaap Kunst, justru peradaban gamelan Jawa dewasa ini sudah sangat berbeda dengan India. Dan jika ingin mencari gamelan luar negeri yang mirip-mirip Jawa, kita perlu mencarinya ke Thailand.

Ada berbagai sifat dan kesamaan di antara keduanya. Kendati bentuknya berlainan, tetapi fungsi seperti gambang, bonang, kendang, bedug, dan gong sama persis. Seorang ahli Belanda lain, Dr. Hazeu menyebut tentang wayang Jawa, yang murni sebagai pemikiran orang Jawa sendiri. Bahkan memungkinkan wayang Hindu diambil dari wayang Jawa, ini diindikasikan dari Bahasa yang digunakan. Sementara untuk wayang Thailand, kemungkinan besar diambil langsung dari orang Jawa atau Melayu. Seorang delegasi dari Thailand, Mr. Chau Sariman, mengemukakan bahwa ada dokumentasi yang menunjukkan wayang Thailand berasal dari Indonesia pada jaman Sriwijaya.

Itu hanya segelintir contoh saja, Batik dan kesenian pun demikian kiranya. Kesamaan itu rasanya tidak perlu dibesar-besarkan. Karena masing-masing pasti memiliki cirri yang khas yang bisa menjadi pembeda antara Negara satu dan lain.

Lantas, permasalahannya mana yang mau dipatenkan? Apakah jenis kesenian atau budaya itu? atau justru ‘corak’ atau versi-nya? Kalau ini berkaitan dengan barang, seperti batik misalnya, logo tertentu dengan kata BATIK bisa saja di-hak cipta kan, untuk menjadi brand, merek.

Dan aihhh… jangan latah akh.. dengan kata ‘paten’.

The Choice is Yours!

Posted by: suryahrhesra on: 10 Juli 2009

Pernah saya heran dan tak habis pikir, bagaimana seseorang mencuci sebuah celana denim menghabiskan setengah kilo detergen. Luar biasa! pikir saya kala itu. Kalaulah celana itu habis dipergunakan membajak sawah, masih masuk akal, tetapi ini tidak. Saya duga paling celana itu baru berumur seminggu dari terakhir dicuci.

Atau, pernah juga saya terheran-heran, bagaimana mungkin sebuah keluarga, ayah, ibu, satu hingga dua orang anak dapat tinggal di sebuah gerobak rokok yang terparkir sepanjang hari di sisi jalan? Sulit dijelaskan dengan nalar, melihat kondisi demikian. Bagaimana mereka bisa tidur? Bagaimana dengan masalah pencernaan mereka? Bagaimana dengan kehidupan suami istri? Tapi toh mereka bisa. Tapi bagaimana?

Atau, pernah juga saya memicingkan mata seraya mengernyit kening, saat saya berjalan-jalan di komplek perumahan kumuh dekat tempat pembuangan sampah. Bagaimana mereka bisa hidup dengan kondisi demikian? Apakah mereka sudah kehilangan sebagian indera, hingga tidak lagi perduli dengan aroma mix demikian?.

Atau, pernah juga saya mengumpat dalam hati, bagaimana bisa anak-anak kecil bawah lima tahun berkeliaran di jalan, tanpa pengawasan orangtua dan mereka tertawa-tawa bahkan saling goda saat menghitung uang hasil ngamen atau mengemis. Padahal mereka hanya tinggal dari gabungan kardus yang dikreasi darurat pada celah-celah gang perkotaan. Atau mereka tinggal di lapak-lapak yang menyisakan sedikit terpal untuk bergulung di malam hari. Bagaimana bisa?

Baca entri selengkapnya »

Diffabel Mainstream

Posted by: suryahrhesra on: 3 Juli 2009

Siapa tidak mengenal Helen Keller?

Nama ini sudah saya dengar dari cerita Ibu ketika masih berseragam putih merah. Dulu saya belum faham kalau yang kerap Ibu ceritakan tidak sekedar dongeng belaka. Baru setelah SMP, ketika saya menemukan sebuah buku cerita anak berjudul Helen Keller, di perpustakaan sekolah, saya menyadari Helen Keller betul-betul berwujud.

Ada beberapa tokoh yang saya ketahui mengenai perjuangan hidupnya. Tetapi entah kenapa, tidak seorangpun terlalu nyantel di kepala saya. Atau tidak pernah membuat saya terngiang-ngiang akan kisah hidupnya. Menurut saya, hidup seseorang, siapapun itu memang butuh perjuangan. Perihalnya, apakah nanti perjuangan itu akan berdaya besar, kososal, ataukah hanya sebatas untuk dirinya sendiri.

Berbeda dengan Helen. Saya melihat perjuangan yang dilakukan Helen untuk bangkit dari kondisi difabelnya sungguh luar biasa. Hellen yang kehilangan indera penglihatan dan pendengaran serta bicara, saat berusia 7 tahun karena panas tinggi membuatnya seringkali dianggap berperilaku tidak seperti manusia (baca: hewan). Hingga dalam usia awal 20an, Helen berhasil lulus di Radcliffe Colledge (cabang Harvard University) selama 4 tahun studi dengan predikat magma cum laude. Luar biasa tentu!

Baca entri selengkapnya »

Antara Euforia dan Pilihan Menjadi Diri Sendiri

Posted by: suryahrhesra on: 29 Juni 2009

Pernahkah merasakan sebuah euphoria yang luar biasa? Dimana kita tidak bisa melepaskan diri darinya? Seakan diri dan pikiran serta merta ikut terseret, terbawa arus, atau ikut berputar dalam kumparan?

Pertujukan musik, isu atau berita hangat, buku popular dan lain sebagainya yang bisa menyulut keingintahuan untuk berkubang di dalamnya.

Euphoria!

Itu yang dalam beberapa hari terakhir ini saya rasakan. Berita meninggalnya Michael Jackson sangat menggemparkan dunia. Dalam sehari dua, seluruh wajah media dipenuhi cover beliau. Sehari dua, seluruh dunia mengelu-elukan beliau. Lantas, apa yang salah? Tidak ada. Hanya saya bertanya-tanya, sampai kapan euphoria ini akan berlanjut?

Ingatan saya melayang tegas saat-saat sulit antara era 90an. Tuduhan pelecehan seksual dan sikap orang kebanyakan yang men-stigma warna kulit MJ bahkan hingga sekarang, membuat banyak pengagum MJ merasa terintimidasi saat keterkagumannya diketahui orang lain. Mengakui mengagumi MJ, berarti harus bersiap-siap mendapat tatapan aneh bahkan tertawaan.

Tetapi, saya melihat sebuah euphoria di tanggal 26 Juni kemarin. Dimana seakan-akan setiap orang berbondong-bondong menjadi penggemarnya, ada pula yang menjadi pengagum dadakan. Semua seakan berbelasungkawa. Luar biasa! Tapi sampai kapan?

Baca entri selengkapnya »

Salam, Welcome..

Posted by: suryahrhesra on: 22 Juni 2009

Sudah lama saya merencanakan untuk memiliki sebuah blog lagi dengan karakter tulisan berbeda dari yang saya miliki sebelumnya. Saya ingin menulis dengan lebih ‘serius’ tetapi dengan tema sehari-hari. Begitu kira-kira pikiran yang pertama terbetik (entah apa nanti betul serius atau tidak), saat hasrat untuk menulis demikian menggebu.

Dari semula saya menulis di blog, sebetulnya saya sudah menghindari atau berupaya mengemohkan keinginan menulis dengan ragam tulis yang akan teman-teman temukan di blog ini. Bukan apa, saya merasa kurang kompeten untuk menulis hal-hal serius yang selalu menyita perhatian saya. Atau saya merasa tidak cukup percaya diri untuk menulis demikian.

Tetapi kemudian, saya menemukan sebuah kalimat yang luar biasa mencelat dalam benak saya dan sulit untuk tidak dipikirkan. “menulis adalah masalah keberanian”. Saya termenung-menung memikirkannya. Betul saja! Mumpung masih ada fasilitas gratis dimana saya bisa ‘bermasturbasi’ dengan pikiran saya, dengan imaji yang seliar-liarnya, Catarsist dulu saya sering menyebutnya. Tapi ini lebih dari sekedar catarsist! Ada semangat yang bersemayam diluar lingkaran Catarsist itu!.

Jadi, mulai dengan lahirnya blog ini, maka saya memerdekakan diri saya untuk lebih bebas menulis mengenai apa saja. Tanpa perlu pengandaian atau analogi seperti sebuah prosa atau sastra atau sajak macam blog sebelumnya.

Saya tidak menyangkal jika nantinya tulisan-tulisan di sini akan terbaca kasar (sekasar penulisnya..:p). Ini semua masalah proses! Hidup pun berproses. Mencapai hidup saya di angka 26, bukan proses yang singkat bagi orangtua saya dan saya. Begitupun dalam saya menulis. Sebuah harapan tentu saya tanamkan, semoga proses itu mengarah ke jarum positif.

Menulis dan menulis!
Membiasakan diri dengan menulis. Dan menulis saja tanpa ragu, kiranya itu konsep blog saya ini.

Kita bertemu lagi, teman!

Salam,

Surya HR Hesra