Surya HR Hesra

Diffabel Mainstream

Posted by: suryahrhesra on: 3 Juli 2009

Siapa tidak mengenal Helen Keller?

Nama ini sudah saya dengar dari cerita Ibu ketika masih berseragam putih merah. Dulu saya belum faham kalau yang kerap Ibu ceritakan tidak sekedar dongeng belaka. Baru setelah SMP, ketika saya menemukan sebuah buku cerita anak berjudul Helen Keller, di perpustakaan sekolah, saya menyadari Helen Keller betul-betul berwujud.

Ada beberapa tokoh yang saya ketahui mengenai perjuangan hidupnya. Tetapi entah kenapa, tidak seorangpun terlalu nyantel di kepala saya. Atau tidak pernah membuat saya terngiang-ngiang akan kisah hidupnya. Menurut saya, hidup seseorang, siapapun itu memang butuh perjuangan. Perihalnya, apakah nanti perjuangan itu akan berdaya besar, kososal, ataukah hanya sebatas untuk dirinya sendiri.

Berbeda dengan Helen. Saya melihat perjuangan yang dilakukan Helen untuk bangkit dari kondisi difabelnya sungguh luar biasa. Hellen yang kehilangan indera penglihatan dan pendengaran serta bicara, saat berusia 7 tahun karena panas tinggi membuatnya seringkali dianggap berperilaku tidak seperti manusia (baca: hewan). Hingga dalam usia awal 20an, Helen berhasil lulus di Radcliffe Colledge (cabang Harvard University) selama 4 tahun studi dengan predikat magma cum laude. Luar biasa tentu!

Tentu saja, Helen tidak bekerja sendiri. Banyak faktor yang kemudian serta merta mendukungnya. Kesadaran tinggi orangtuanya mendatangkan Anne Sullivan sebagai guru privat, kemudian keteguhan seorang Anne Sullivan sebagai seorang guru dan tentu saja kesempatan atas berpendidikan di sekolah formal untuk seorang diffabel yang rasanya perlu digarisbawahi.

Bayangkan kalau saat itu orangtua Helen tidak tergugah hatinya untuk membangkitkan Helen dari keterpurukan kondisi fisik, bayangkan jika mereka tidak berpikiran terbuka dan optimis akan masa depan Helen. Bayangkan jika orangtuanya memberatkan rasa malu akibat memiliki seorang anak yang difabel (hei, kita tidak bisa menutup mata, bahwa masih banyak yang menganggap kondisi difabel ini adalah sebuah aib yang memalukan).

Dan negara kita masih terlalu kaku dengan manusia-manusia difabel. Termasuk kita juga barangkali. Walau kemudian negara kita pun pernah mendapat sorotan lantaran berPresidenkan seorang yang notabene difabel.

Ohya, difabel sendiri sebetulnya hanya akronim dari Different Ability lebih tepatnya untuk mewakili ‘people with different ability’ itu tadi. Konstruksi pemahaman cacat sendiri sebetulnya sudah mengakar budaya sedemikian rupa, dengan bahasa-bahasa Negara yang saya pandang cukup ‘kejam’.

Tidak bisa dipugkiri rasanya, teman-teman difabel sering mendapat perlakuan diskriminasi, terutama dalam kesempatan bekerja. Padahal negara kita memiliki UU Ketenagakerjaan yang mengatur dengan jelas quota 1% untuk mempekerjakan diffabel. Termasuk pada lembaga-lembaga Negara. Tetapi pada kenyataaannya, hal ini sangat nihil dijumpai. Malah yang membuat saya lebih miris ialah saat Lembaga Swadaya yang mengusung isu kesetaraan hak (dan sebangsanya) justru seperti juga tak mengindahkan hal ini.

Contoh lain yang cukup membuat ngeri (seandainya kita hidup sebagai seorang difabel, heii..kemungkinan itu bisa saja toh?), ialah fasilitas public yang jauh dari ramah difabel. Padahal jelas pada PP no. 468 tahun 1998, mengatur bagaimana pembangunan fasilitas dan gedung publik harus ramah difabel. Tetapi rasanya tidak bisa kita jumpai hal tersebut di sekitar kita (atau mungkin luput dari mata saya, semoga saja demikian).

Sebagai contoh, yang beberapa kali saya temui, di Rumah Sakit yang jelas-jelas diakses oleh siapapun, tidak ada jalur khusus untuk difabel yang menggunakan kursi roda, kalaupun ada, tanjakan yang ada cukup tinggi atau sangat curam. Bisa dipergunakan, tetapi tetap harus dengan bantuan oranglain. Tidak memungkinkan seorang difabel untuk menaikinya sendiri. Ada juga yang lebih lucu, oke.. dilantai satu dibuatkan jalur khusus itu, tetapi di lantai dasar, malah tidak ada sama sekali. Jadi bagaimana mau dipakai?

Saya masih berharap ada seorang seperti Helen Keller, yang saat itu ia berkeliling ke 39 negara untuk berbincang dengan para presiden, mengumpulkan dana untuk difabel mata dan telinga, meski tidak perlulah mendirikan lembaga-lembaga baru serupa. Awalnya, saya berharap banyak pada mantan presiden RI itu untuk bisa nyinyir sedikit pada dunia, untuk bisa membawa perubahan pandangan, stigma dan tentu perubahan hidup bagi teman-teman difabel. Tapi apa mau dikata…

KALAU teman-teman ke Jogja, dan berjalan-jalan ke bilangan Malioboro serta menyusuri sepanjang jalan pertokoan dengan berjalan kaki, teman-teman tentu akan menemukan ia. Namanya Kemat, ia pekerja seni yang kebetulan ‘berkantor’ di teras sebuah Hotel di sana. Sudah lebih 10 tahun ia bekerja di situ. Pagi, hingga sore. Jam 10 pagi, hingga 5 sore.

Kemat ialah pemain angklung. Dari jarak beberapa meter, tentu suara angklungnya sudah terdengar. Saya termasuk penikmatnya, tidak jarang juga saya request beberapa lagu, kendati ia kerap protes, karena lagu keroncong yang saya minta tidak semu bisa dilagukan dengan angklung, keterbatasan nada! Kemat memang ciamik dalam memainkan bilah-bilah bambu itu. Kemat, seorang difabel, berkarya di jalan.

Saya betul-betul menikmati permainan Kemat. Ia tidak melihat, pendengarannya pun ‘payah’. Sehingga, saya menduga kalau RASA-lah yang ia jadikan sebagai penikmat setiap permainannya. Sentuhan rasa itu yang kiranya tidak dimiliki tiap orang yang faham permainan angklung sekalipun. Maka saya setuju, penggunaan istilah DIFABEL (Different People Ability).

Permasalahan ini kiranya adalah sebuah konsep difabel mainstream yang dengan egois digulirkan oleh orang-orang yang mengaku ‘normal’. Mengubah kata ‘cacat’ menjadi ‘difabel’ saja tidak cukup! Perlu sebuah kesadaran general untuk menggagas itu menjadi seimbang.

Jumlah teman-teman difabel memang jauh lebih sedikit, hingga bisa dikatakan mereka termasuk minoritas (maaf, jika saya menjudge). Semoga saja, semangat Helen Keller juga bersemayam dalam dada teman-teman kita ini. Semoga saja mereka tidak terlena dengan ‘zona nyaman’ yang keliru atas keterbatasan fisik itu.

Suara difabel, tentu akan terdengar oleh telinga-telinga kita yang cukup dekat dengan mereka, yang saya yakin masih terlihat di mata kita. Seperti halnya Helen Keller yang butuh sosok Anne Sullivan. Teman-teman difabel juga butuh kita. Bagaimana menurut teman-teman?

Salam,

Hesra.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.