Posted by: suryahrhesra on: 7 September 2009
Apa yang kalian pikirkan tentang hidup yang terjalani? Apakah hidup ini adalah sebuah pencapaian ataukah sebuah pengabdian? Saya yakin masing-masing dari kita memiliki definisi sendiri-sendiri.
Begitu juga dengan saya. Jika hidup didefinisikan sebagai sebuah pengabdian yang berwujud, maka sepertinya saya harus berpikir keras untuk memastikan bahwa itu bukan suatu hal yang absurd.
Kata pengabdian sangat identik dengan perempuan. Entah dimulai dari mana. Mungkin budaya Jawa yang mula-mula mengajarkan itu di Nusantara, karena sepengetahuan saya, hal berbeda justru terjadi pada etnis-etnis Dayak, misalnya. Perempuan Dayak bukan hanya akan bekerja dan mengabdi di rumah saja (dalam hal ini dipingit), tetapi mereka jauh lebih berperan dalam perladangan, pengihupan keluarga.
Tetapi, mengabdi, tetap saja mengabdi. Nilai pengabdian yang sama yang saya temukan ialah keluhuran untuk meluruhkan segenap hidupnya semata demi suami dan anak. Terkadang suami menjadi dominant ketimbang anak. Tetapi tentu, hal ini mengalami pergeseran ketika jaman menyatakan dengan jelas, bahwa anak merupakan asset yang sangat penting untuk sebuah keluarga itu sendiri.
Apakah keterbatasan gerak perempuan untuk keluar dari sekedar lingkup keluarga hanya terjadi di nusantara? Ternyata tidak juga. Feminisme di Amerika sendiri pun perlu melakukan sebuah gerakan besar yang berjudul perjuangan.
Amerika Serikat, Negara yang sepertinya telah merdeka dari apa saja itu ternyata mencatat nama-nama seperti Elizabeth Cady Stanton, dalam Konvensi Hak-Hak Perempuan di Seneca Fall New York (1848), Lucy Stone dalam Konvensi Hak-Hak Perempuan (1850). Yang mana kedua kelompok ini kemudian berkoalisi dalam Woman’s National Loyal League (1863) yang diketuai Susan Anthony, dan pada tahun 1878 menyerahkan amandemen Konstitusi Amerika untuk hak pilih perempuan di Amerika.
Bagaimana perjuangan untuk hal ini? Butuh waktu panjang, yakni selama 41 tahun untuk sebuah pencapaian dengan perjuangan panjang yang melelahkan. Akhirnya di tahun 1919, amandemen hak pilih perempuan itu disetujui. Dan setahun setelahnya, di tahun 1920, perempuan Amerika telah menggunakan hak pilih.
Bagaimana dengan perempuan Indonesia? Pada pemilihan pertama, yang berlangsung tahun 1955 dimana saat itu Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan diganti Burhanudin Harahap selaku Perdana Mentri. Pada pemilu pertama tersebut, perempuan Indonesia telah berhak menjadi pemilih.
Tentu jauh berbeda kondisinya jika kita membandingkan . Sehingga bukan saja diinsyafi, tetapi disepakati bahwa perempuan Amerika berada baris depan perjuangan pergerakan perempuan. Bahkan belakangan saat perempuan Indonesia berhasil menggoalkan quota 30 persen dalam pemerintahan, ternyata ini masih lagi belum diimbangi dengan kesediaan atau lebih tepat kesiapan para perempuan itu sendiri. Terbukti banyak daerah tidak berhasil mmenuhi quota 30 persen yang ditetapkan.
Gerangan apakah sebetulnya yang terjadi? Tentu perlu sebuah pengkajian dan penelitian yang serius mengenai berbagai kemungkinan jawaban. Saya tidak berada di ranah itu.
Kembali ke sebuah kata yang sangat menarik, pengabdian. Berasal dari kata abdi yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung pengertian orang bawahan, pelayan, hamba. Dan untuk kata pengabdian sendiri berarti proses, cara, perbuatan mengabdi atau mengabdikan.
Jika disebut bahwa abdi ialah pelayan, maka bisa diartikan bahwa pengabdian ialah melayani. Pengabdian yang kentara dilakukan perempuan menikah ialah mengabdi untuk keluarga, ada yang menyebutnya sebagai sebuah dedikasi. Ada pula yang menyebutnya sebagai kewajiban pacsa nikah, ada juga yang menyebut sebagai tuntutan agama dan lain sebagainya.
Tetapi, saya kuatir jikalau bentuk pengabdian ini hanya berpengertian absurd belaka. Pengertian mengabdi pada keluarga yang disikapi dan difahami secara sempit, bukankah justru menjebak definisi pengabdian itu sendiri?
Manusia dilahirkan dengan dua hubungan besar yang tidak bisa dibantah, dalam ajaran Islam kita mengenal Habluminallah dan Habluminannas. Hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dan manusia. Dalam hal ini, manusia tidak akan terlepas dari kewajiban-kewajiban vertical.
Kewajiban vertical ini merujuk manusia, termasuk perempuan karena perempuan juga manusia untuk mengabdi tidak hanya pada lingkup terdekatnya saja. Keterbatasan pengabdian yang terbatas hanya pada rumah tangga, bukan tidak mungkin membuat perempuan terjebak di dalamnya. Padahal, perempuan tetap punya kewajiban untuk mengabdi terhadap sesame, dalam bentuk yang beragam tentunya.
Dominasi lelaki atau kesepakatan mainstream tak tertulis, seolah menyepakati pengabdian absurd ini menjadi legal. Kalau demikian hal-nya, apa bedanya dengan kutukan Sishypus dalam mitologi Yunani?
Bayangkan kehidupan perempuan menikah sehari-harinya. Bangun tidur dia sudah dihadapkan dengan rutinitas rumah yang itu-itu saja, dengan ritme yang melulu begitu . Rutinitas? Saya lebih cenderung menyebutnya jebakan. Sebuah rutinitas dapat dijalankan berdasar pilihan, tetapi tidak demikian dengan pengkondisian sebagai Ibu rumah tangga yang mutlak harus di rumah dengan dalih keharusan agama, misalnya.
Maka logika saya, menyatakan kondisi ini sama saja dengan kutukan Sishyphus dalam mitologi Yunani. Dimana Sishypus dikutuk memikul bongkah batu besar dan membawanya ke atas bukit hanya untuk menyaksikan batu itu terjatuh, lalu ia akan turun lagi mengangkut batu besar itu kembali demi mlihat batu itu menggelinding, begitu seterusnya. Bukankah ini sebuah jebakan kalau terlalu ekstrim disebut kutukan?
Prempuan butuh ruang, untuk mengapresiasi diri. Untuk siapa? Tentu saja untuk rumah tangga itu sendiri.
Salam,
Surya HR Hesra
(Pontianak, 7 Sept 2009, 09:19)
7 September 2009 pada 17:27
anda penulis berbakat. referensix lumayan. jg kritis..
teruslah menulis kawan… Scripta manent Verba Valent…
11 November 2009 pada 17:46
terima kasih…
dan aku banyak belajar dari blog dirimu, teman…