Posted by: suryahrhesra on: 22 Oktober 2009
Tentu saja jawaban ini akan sangat variatif. Saya sangat salut pada mereka yang memang menyediakan anggaran khusus untuk buku secara periodik. Saya sendiri seringkali keteteran dalam hal ini. Dan lebih sayang lagi, karena kesadaran untuk membaca datang sudah cukup terlambat.
Semasa remaja, saya lebih senang megoleksi kaset. Parah, karena saat itu saya berpikir masih tinggal dengan orangtua dan menjadi parasit lajang (baca: Ayu Utami) maka saya tidak segan menghabiskan hingga 75% pendapatan demi membeli. Namun menginjak remaja akhir saat mulai membacai buku Pram, mulailah saya berpikir akan jauh sangat bermanfaat jika saya mengoleksi buku saja.
Peralihan ini bukan tanpa sebab, era digital saat ini menyebabkan pergeseran yang luar biasa akan segala hal yang berbau analog, diakui atau tidak. Terutama dalam hal musik. Jamak kita ketahui bersama, penjualan kaset merosot tajam sejak digantikan dengan cakram digital. Belum lagi kemudahan mendownload di internet.
Sehingga pengoleksian kaset, bisa tergantikan dengan penyimpanan di folder-folder MP3 di PC atau laptop. Ironisnya, tidak sedikit juga stasiun radio yang justru tak memiliki diskotik, ruang mirip perpustakaan yang isinya arsip lagu. Alasan tambahan, karena kaset yang telah lama tidak diputar, seringkali tidak bisa diputar, kondisi lembab membuatnya berjamur. Itu mengesalkan.
Maka dengan kebutuhan dan pemahaman baru, saya memilih mengoleksi buku saja, ketimbang kaset. Belum banyak dan belum ada yang bisa dibanggakan akan yang saya miliki.
Sekali lagi, berapa anggaran yang anda butuhkan untuk berbelanja buku?
Ini semata soal komitmen. Berapapun anggaran yang disediakan. Meski kecil sekalipun, jika dilakukan secara periodik maka hasilnya akan terasa. Bayangkan jika setiap bulan, misal, paling tidak ada satu buku yang dibeli, tanpa terasa dalam 5 tahun, anda sudah memiliki 60 buku. Sebuah rak kecil di sudut kamar anda, tentu akan mempermanis ruangan. Tetapi, memang tidak ada buku yang seharga semangkuk mie!
Tanpa bermaksud tidak menghargai jerih payah para penulis buku, pada kenyataan, buku masih seperti barang mewah saja. Tidak menjadi soal bagi mereka ya;ng bekerja dengan penghasilan lumayan. Tetapi, saya menguatirkan teman-teman yang dari segi pendapatan saja sudah sangat pas-pas-an atau malah bisa dikatakan tidak cukup.
Sebelum saya coba paparkan teman-teman yang saya maksud ini, kita harus sepakat dulu bahwa membaca adalah hak siapa saja, membaca adalah sebuah bentuk kemerdekaan. Nah, setelah kita sepakat, saya lanjutkan.
Sepakatkah anda, jika minat baca akan sangat baik bagi jiwa-jiwa muda? Dimana rasa idealisme dan rasa ingin tahu masih sangat tinggi. Sering saya jumpai teman-teman tamatan SMU yang memilih bekerja, mereka mendapat honor (saya tak berani menyebut gaji) yang jauh dari cukup jika dikalkulasi.
Seorang capster di salon dengan brand besar yang membuka sekolah dan banyak cabang di seluruh Indonesia, memberikan honor per hari sebesar Rp. 13.000 (untuk makan dan transport) ditambah bonus Rp. 500 untuk klien yang melakukan hair spa, Rp. 1.000 untu Back Theraphy dan untuk treatment lain, tak ada insentif. Sebulan, yang dikantongi Rp. 250.000, kalau sedang banyak pelanggan, bisa mencapai 300 lebih, tapi tak pernah menembus 400, itu yang dibeberkan Ani (bukan nama sebenar), sudah 7 bulan menjadi capster dan mengeluhkan tak bisa resign, karena terikat kontrak selama dua tahun, dan butuh uang setidaknya Rp. 2 juta untuk menebus ijazah yang di tahan.
Begitupun banyak pekerja di toko atau pusat perbelanjaan, misalnya yang rata-rata penghasilan per bulan mereka sebesar Rp. 300.000 – Rp. 450.000. Mereka bekerja 8 jam, dalam satu shift seringkali bahkan mereka tidak punya waktu libur, kalaupun ada owner tempat mereka bekerja memberi libur, biasanya tanggal merah dihindari untuk off.
Wajar jika kita kecil hati dengan ini. Dalam sebuah situs, saya temukan bahwa untuk di Jakarta saja, UMP DKI Jakarta untuk tahun 2008 sebesar Rp. 1.069.865. Angka ini tentu akan lebih kecil di daerah lain. Baik, taruhlah dengan pendapatan itu, dianggarkan 5% (saya ambil dengan asumsi minimun) untuk membeli buku tiap bulannya, maka akan tersedia dana sebesar Rp. 53.493,25, kita bulatkan Rp. 53.500. Lantas, bagaimana dengan teman-teman yang berpenghasilan di bawah Rp. 500.000? Anda tentu bisa menghitung.
Saya jadi teringat lontaran kalimat seorang teman, “pemerintah gila sih, masak buku masih dianggap barang mewah, apalagi buku import, ppN-nya gede banget. Gimana bangsa ini bisa maju?”.
Tapi saya tetap optimis, minat dan rasa ingin tahu yang besar, bisa mendobrak belenggu itu. Sekali lagi, buku bukan barang murah, tak ada yang seharga semangkuk mie. Tetapi ini masalah komitmen!
Nah, lantas berapa yang anda anggarkan untuk berbelanja buku?
Pontianak,
09 10 09
14.04
(di tepi Kapuas, sampan melintas hulu hilir)
Komentar Terakhir