Surya HR Hesra

Alegro

Posted by: suryahrhesra on: 1 November 2009

Adakah sebuah kebetulan dalam hidup ini? Saya tidak percaya itu, kendati seringkali dalam beberapa hal, saya menyebutkan sebagai sebuah kebetulan. Tidak ada sebuah kebetulan yang sempurna dalam hidup, saya yakini itu. Setiap apapun itu, membawa pesannya tersendiri, termasuk pertemuan dengan seseorang.

Masih dalam bilangan dua minggu lalu, saya terlibat suatu acara di sebuah Hotel berjaringan se-Indonesia, di Pontianak. Seorang pekerja hotel melitas di hadapan, lantas saya sapa, “Mas, bisa saya minta air mineral?”. “Oh, tentu saja,” jawabnya ringkas, lantas berlalu dan tak sampai dua menit, kembali lagi, member saya sebotol kecil air mieral.

“Nggak ngopi saja, Mbak?,” katanya sambil menyodorkan air mineral itu. Saya tersenyum, pagi itu memang belum segelaspun.  “Nanti saja,” jawab saya. “Kalau Mbak mau, saya ambilkan, tanpa gula kan?,” sambarnya.  Spontan saya mengerutkan dahi.

Seakan mengerti pertanyaan dalam benak saya, yang tak sempat keluar, bagaimalna dia bisa tahu? Dia menjawab dengan sebuah senyuman dan berlalu. Dan tidak sampai lima menit kemudian, dia sudah kembali dengan secangkir kopi di nampan. “Dari semalam saya perhatikan, hanya Mbak yang minum tanpa gula,” kopi itu mulai berpindah tangan. Saya masih pasang senyum, tanpa bisa berkata.

“Alegro, Mbak… memang lebih kentara tanpa gula,” ucapnya lagi, memberi tabik lantas berlalu meninggalkan saya. Tak sempat saya ucap terima kasih, hanya senyum masih mengembang. “Hem, Alegro…,” gumam saya sembari mencecap.

Sebuah sore, saya menerima pesan singkat dari seorang sahabat, mengabarkan ada sebuah tawaran kegiatan dari Hotel  di atas. Dan membutuhkan kami bertemu untuk membicarakan lebih lanjut, maka bergegaslah saya berangkat menuju tempat yang telah disepakati. Seorang lelaki yang baru saya kenal sudah menunggu. Saya dan sahabat saya menghampiri.

Kami memesan minuman, berbincang. Tetapi belum lagi membicarakan kegiatan itu. Saya menunggu. Lelaki itu dan sahabat saya begitu seru berbagi cerita mengenai dunia malam, alcohol, kaum hedonis, tentu saja saya lebih banyak menyimak, untuk hal tersebut, saya kurang faham. Sebetulnya, saya merasa nyaman dengan pembicaraan mereka, kendati saya kurang faham. Saya lebih tertarik dengan cara bertutur lelaki itu, tertarik dengan perjalanan hidupnya di dunia perhotelan. Untuk posisi yang cukup tinggi di Hotel tadi, ia termasuk low profile.

Baru sekitar dua bulan ia beserta assistennya dan dua orang pekerja lain di Pontianak. Dia bercerita, betapa berat upaya dalam pembukaan Hotel tersebut. Hotel yang saya maksud memang terbilang baru berdiri di Kota ini.

Di tengah perbincangan, kemudian datanglah seorang lelaki lagi, lelaki yang terlebih dahulu saya kenal. Ia lelaki yang memberitahu saya, nama kopi yang rasanya nikmat itu, Alegro. Ia datang membawa sebuah map berisi 4 amplop ber-cap nama hotel tempat mereka bekerja. Lelaki pertama, memilih sebuah amplop, membuka, dan menandatangani. Tidak ada yang mencurigakan, kecuali wajah kusut lelaki kedua.

Saya tersenyum pada lelaki kedua, sembari menggoyang telunjuk ke arahnya. Ia tersenyum, “Alegro memang enak dinikmati tanpa gula, Mbak…,” katanya. Aha! Saya masih belum tahu siapa nama lelaki itu.

Kami memesan makan, setelah makan tuntas. Lelaki pertama, menyodorkan map itu pada saya dan sahabat saya. “baca deh,” katanya. Saya mengernyit. “nggak pa-pa?,” saya mencoba meyakinkan. Ia mengangguk. Saya baca judul yang tertera, Resigning Letter. Saya semakin tidak mengerti.

Lalu saya bukai satu-persatu, keempat surat itu berisi persis, hanya penanda tangan di bagian bawah saja yang berbeda nama.  Saya kaget, tentu saja!

“Penerbangan pertama Sriwijaya besok, kami kembali ke Jakarta. Saya sengaja mengajak kalian ke sini, untuk berpamitan sebetulnya. Hanya, jika saya sampaikan di awal sebelum kita makan, tentu akan bikin ilfil, kan?,” Lelaki pertama member penjelasan. Tidak fair! Dalam hati kukatakan itu.

Saya menahan diri untuk tidak menanyakan alasan resign mereka yang serempak itu, tentulah ada masalah yang krusial.

“Tidak ada alasan untuk bertahan, kami sudah bekerja overload, tapi tidak ada penghargaan dari manajemen, dan kami sudah pada sebuah titik balik, merasa betul-betul sia-sia. Tidak ada alasan untuk bertahan,” kalimat itu terngiang-ngiang dalam benak saya.

Mungkin saya sentimentil, entah genangan di mata saya terbaca atau tidak oleh mereka. Sontak, saya lantas bercermin pada diri saya sendiri. Kalimat itu, ya… kalimat itu. Tidak ada alasan untuk bertahan.

Seringkali kita (akh, tidak semua dari kita tentu saja) terjebak dalam sebuah posisi, kondisi dan situasi yang sangat tidak nyaman, sangat tidak diinginkan. Seperti sebuah pernikahan.

Diakui atau tidak, bukan sedikit pasangan yang terikat dalam pernikahan tidak menjalankan kehidupan dalam pernikahan itu secara seimbang (semoga saja, ini hipotesa yang ceroboh dari saya). Ada yang berusaha keras mempertahankan pernikahan itu dengan beragam alasan, anak yang seringkali menjadi kambing hitam. Tetapi benarkah demikian?

Dan tidak sedikit juga yang memilih untuk berpisah, bercerai.

Angka statistik memang menunjukkan bilangan yang tidak sedikit untuk kasus ini. Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Badan Peradilan Agama Makamah Agung, pada tahun 2007 penceraian di DKI Jakarta mencapai 6.218 kasus, terdiri atas istri gugat cerai suami 3.482 kasus, dan suami gugat cerai istri 2.115 kasus. Sedangkan pada tahun 2008 tercatat 5.193 kasus, terdiri atas istri gugat cerai suami 3.105 kasus, dan suami gugat cerai istri 1.462 kasus.

Apakah perceraian adalah sebuah aib?

Mungkin masih banyak frame masyarakat Indonesia yang beranggapan demikian. Tetapi saya tidak sepakat. Saya lebih sependapat kalau perceraian semata pilihan, begitupun dengan pernikahan. Mengenai kesakralan dari pernikahan itu sendiri, sepertinya itu perlu dikembalikan ke masing-masing individu sebagai personal yang independen.

Siapa tidak menghendaki sebuah pernikahan yang membahagiakan? Dan betul memang, dalam sebuah pernikahan pasti kerap muncul aral lintang, permasalahan, percekcokan, bahkan pertikaian jika memungkinkan. Tetapi saya rasa, itu semua tidak akan menjadi masalah berarti, jika masing-masing dari pasangan bisa menghadapi bersama, dalam porsi yang seimbang.

Tetapi, bagaimana jika pernikahan lantas hanya berfungsi seperti tameng saja? Hanya berisi kepura-puraan belaka? Sanggupkah untuk terus bertahan? Untuk apa? Apakah sekedar untuk mencipta kebohongan demi kebohongan? Menampakkan keharmonisan yang sesungguhnya semu. Untuk apa?

Jika tidak ada cinta lagi dalam sebuah pernikahan, atau memang tidak pernah ada cinta dalam pernikahan, untuk apa mempertahankan kebohongan dalam pernikahan itu sendiri?

Pasti, reaksi dari pendapat ini, akan beragam. Dimulai dengan pertanyaan, jika demikian, mengapa memilih menikah? Saya rasa beragam alasan bisa dikemukakan, bukan kapasitas saya merujuk alasan-alasan yang ada. Tetapi, yang perlu disadari bersama ialah, tidak semua pernikahan dilandasi keinginan bersama yang kuat, atau dengan kata lain, pernikahan bisa disebabkan banyak hal, perjodohan, kekalutan usia, status dan lain sebagainya.

Saya teringat perkataan seseorang, mengenai gunjingan orang-orang akan perceraian. Menurutnya, perceraian ataupun pernikahan sama saja. Kalau baik akan menjadi gunjingan, apalagi buruk.

Akh, secangkir Alegro dengan atau tanpa gula, resign atau bertahan di sebuah tempat kerja, meneruskan pernikahan atau bercerai, bukankah semata pilihan?

Tetapi sekali lagi, apakah perceraian merupakan sebuah aib?

The answer is yours!

 

Salam,

Pontianak,

1 Nov 2009

08.08

6 Tanggapan to "Alegro"

ya itu memang pilihan semata. dan kamu pilih yang mana?

aku pilih kopi desa, tubruk, pakai gula jawa.

ya… ya… ya… aku pilih kopi tubruk juga, tapi nggak pakai gula, teteuuup…. :p

kalo suami marah istri ngalah, gantian kalo istri marah suami ngalah, gak bakal divorce. Cuman itu obatnya …. harus ada tarik-ulur

@ naufal: aha! tak seideal itu, teman… :)
ini bukan layangan yang bisa ditarik ulur :p

aku pilih kopi pangku…teteup :-P

halaaahhh… kayak tau ajah! :p

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.