Posted by: suryahrhesra on: 8 November 2009
Siapa tidak ingin didengar? Berdasar pengamatan yang tentu masih terbatas, saya mendapati bahwa semua orang ingin didengar. Apapun yang mereka ucap, apapun yang mereka rasa, apapun yang mereka bagi.
Saya adalah pendengar yang akut (nanti saya jelaskan, mengapa), kendati jika sudah berbicara terkadang juga menjadi sangat bawel.
Dua tahun terakhir selama saya tinggal di Jogjakarta, saya membebaskan diri dengan berjalan-jalan seorang diri di sepanjang Malioboro. Apa yang saya perbuat? Sederhana, mendengar!. Saya senang duduk sembari mengobrol dengan bapak penjual gulali, salah satunya Pak Mamat yang sudah sejak tahun 90an berjual gulali keliling dan selama lebih 10 tahun, hanya menerobos inovasi dari warna gulali saja, untuk bentuk, tak jauh berbeda.
Begitu pula dengan Pak Kemat, seorang seniman angklung difabel yang biasa bekerja di depan salah satu hotel terkemuka di bilangan Malioboro. Jangan dikira Pak Kemat tidak terkenal, karakter yang dibangun Pak Kemat cukup kuat, siapapun yang pernah berjalan melewati lorong sepanjang Malioboro sayap timur itu, tentu kemungkinan besar pernah bertemu. Orang tidak akan menyangka jika beliau difabel mata dan telinga. Permainan angklung-nya luar biasa. Tentu timbul pertanyaan, jika memang sedemikian luar biasa, kenapa dia masih bertahan di jalan? Aha! Itu semata pilihan (haha! betapa senangnya saya dengan kalimat ini :p)
Bu Maryati, ia satu dari sekian banyak kuli pikul yang akan banyak anda temui di Pasar Bringharjo. Ia akan menawarkan tenaganya untuk mengangkut belanjaan anda seberapapun beratnya, tanpa mematok bayaran. “Terserah saja, seikhlasnya,” kalimat khas Jawa. Ia termasuk yang pernah saya ajak duduk mengobrol sembari menikmati es dawet.
Ada beberapa penjual es dawet di dekat Bringharjo. Dalam beberapa kesempatan, saya mencobai semua. Apakah saya sekedar mencoba? Tidak… saya butuh mengobrol, saya butuh mendengar. Biasanya, saya akan mulai dengan pertanyaan klasik, “sudah lama berjualan dawet?,”. Percayalah, semakin lama mereka eksis dengan pekerjaan itu, semakin mereka punya kebanggaan atas eksistensi mereka.
Setelah itu, semua mengalir, mereka tidak akan sungkan bercerita mengenai apa saja, kehidupan keluarga, pendapatan per hari, persaingan, bahkan mereka tidak sungkan berbagi pendapat mengenai politik.
Kalau ditanya siapa saja yang pernah saya ajak ngobrol, saya nyaris lupa saking banyaknya. Penjual sate, penjual es sari tebu, penjual name tag dari baja, penjual cimol, penjual es campur dan bakso, penjual mainan-mainan anak, penjual akar wangi, satpam, juru parkir, penarik becak, penarik andong, dan lain-lain rasanya tak luput. Aha! hanya penjual lumpia yang belum, karena mereka sangat sibuk, bekerja cepat dan tentu merepotkan kalau saya bertanya-tanya. Ini kata lain dari, saya lebih menikmati memakan lumpia ketimbang mengobrol.
Apakah mereka ini orang yang biasa-biasa saja? Apakah ibu-ibu kuli gendong itu adalah perempuan lemah? Jangan gegabah. Mereka hidup, melakukan pekerjaan itu bukan semata karena uang!. Apakah keluarga mereka adalah orang-orang yang tidak berkecukupan secara ekonomi? Ada yang memang demikian, tetapi ada juga bahkan yang sangat bebas beban financial.
Artinya, uang bukan segala-galanya. Ibu Maryati dan banyak pekerja di bilangan Malioboro mengatakan bahwa ini adalah kebutuhan batin. Mereka bingung saat mereka harus berdiam diri di rumah, kendati terkadang kita merasa iba, kenapa setua itu masih bekerja keras?
Apa yang menyebabkan mereka tidak betah berada di rumah? Satu hal saja, karena sudah tidak ada yang bisa mendengar mereka. Saat anak cucu mereka merasa lebih hebat karena sekolah ketimbang dirinya, maka ia akan mencari penghiburan lain di luar rumah.
Apakah hanya mereka yang berlaku demikian?
Seperti yang saya katakan, semua orang butuh didengar. Seorang dosen yang mungkin lebih tahu banyak hal disbanding mahasiswa-mahasiswa mereka, selalu butuh di dengar, meski apa yang ia sampaikan tidak menarik. Maka untuk keegoisan dengan dalih penghargaan, pendidik itu membuat kesepakatan untuk mematikan alat komunikasi selama kelas berlangsung.
Seorang artis, bukan siapa-siapa kalau suara-nya sudah tidak didengar lagi oleh masyarakat. Ia akan kehilangan pamor, kehilangan kelas dan tentu kehilangan kredibilitas. Seorang pemimpin, hanya akan menjabati peran yang semu selama ia tidak didengar oleh bawahannya. Seorang politikus, ia menjadi tong kosong saat tidak ada yang berusaha mendengar. Ia tentu tidak akan mampu menggerakkan massa untuk sepakat dengan suaranya.
Seorang marketing apalagi, saat ia hanya bisa menyampaikan dagangannya tanpa mencoba mengetahui kebutuhan konsumen, tentu ia akan menjadi seorang marketing yang tidak peka.
Saya yakin, kita semua sepakat bahwa kita semua butuh didengar. Saya, anda dan siapa saja. Bayi, anak, remaja, dewasa bahkan manula. Apapun ragam pekerjaan, status social dan lainnya. Didengar adalah sebuah kebutuhan yang mutlak.
Masalahnya, apakah kita juga akan bersedia menjadi seorang pendengar? Akh, itu semata pilihan.
Hal yang seringkali terjadi pada mereka yang memilih untuk menjadi pendengar ialah ia kehilangan kesempatan untuk bersuara. Kalau tak boleh dikatakan kehilangan kesempatan untuk buka mulut, mungkin yang lebih tepat ialah ia kehilangan keberanian untuk berpendapat. Ia menjadi takut untuk mengeluarkan suaranya sendiri yang memang sangat minim didengar, ia menjadi takut jika yang akan ia sampaikan akan terlihat keliru. Ia menjadi pengecut akibat kegusaran semu, akibat baying-bayang ketakutannya sendiri. Maka ia akan terus-menerus menjadi pendengar akut. Mendengar sudah seperti candu baginya. Bukan apa-apa, teman… ini berdasar pengalaman saya saja
Sehingga, butuh media lain, supaya si pendengar ini tetap didengar. Dan media itu (sejauh yang saya temui) adalah menulis. Sehingga saya menginsyafi, bahwa menulis adalah mendengar dengan kerendahan hati.
Salam,
Pontianak,
8 Nopember 2009
08.08 PM
pertama, bagaimana kalau kita mulai mengganti penggunaan kata ‘tuna’ etc? aku lebih senang menggunakan kata ‘difabel’ (different people ability), tentu kau pun tentu faham itu kan?
dan untuk si anak itu, kita sebut saja, ‘difabel dengar’. yah, ini sekedar tawaran, kau berhak menolak
wah alasan pendengar akut di paragraf terakhir…tampaknya itu menjelaskan kenapa saya juga masuk ke pendengar akut
tak banyak kesempatan bicara tanpa disalahkan, juga mendera pradna kecil
maknya jadilah fragmen Obrolan Sore yg tidak berseri…
nomer yang tercantum di Obrolan Sore hanyalah menandakan banyaknya Obrolan Sore yang telah tertumpah
thanks,
nice info
kunjungan perdanapostingan yang baik kawan
salam hangat selalu
percaya kalau mbak hesra pendengar yg baik. nyatanya bersedia mendengar seluruh ocehan ku selama hanpir 2 jam!!
Aku yg biasanya mendengar sekarang di dengar. sungguh rasanya sangat berbeda
Akh, Fin…
jangan begitu akh… suatu saat nanti mungkin giliranku yang bercerita. bukankah sepasang sahabat senantiasa berbagi telinga?
*menunggu kelanjutan kisah anakilang*
Bagi sebagian orang tidak mudah menjadi pendengar yang baik, mereka lebih suka sebagai pembicara.
Saya sepakat dengan yang Hesra sampaikan… bahwa hal yang seringkali terjadi pada mereka yang memilih untuk menjadi pendengar ialah ia kehilangan kesempatan untuk bersuara. Kalau tak boleh dikatakan kehilangan kesempatan untuk buka mulut, mungkin yang lebih tepat ialah ia kehilangan keberanian untuk berpendapat. Ia menjadi takut untuk mengeluarkan suaranya sendiri yang memang sangat minim didengar, ia menjadi takut jika yang akan ia sampaikan akan terlihat keliru.
Btw, ternyata Hesra punya sarang baru
9 November 2009 pada 03:48
mungkin kita harus diperingatkan terlebih dahulu….
aku jadi ingat dg buku “I`m (n*t) deaf”kisah nyata seorang anak tuna rungu……… seorang ibu diteriaki anaknya yg tuna rungu “hey, are you deaf mom!”