Posted by: suryahrhesra on: 31 Desember 2009
“Tahun baru nanti mau kemana? Ada acara apa?,” berkali-kali pertanyaan itu datang pada saya. Terus terang saja, saya tidak menspecialkan tahun baru atau hari-hari besar lain, kecuali Idul Fitri. Sejauh yang saya ingat, seumur saya hidup, hanya dua kali saya melewatkan pergatian tahun beramai-ramai.
Yang pertama saat saya berusia 11 tahun, kelas 1 SMP, di kantor tempat ayah bekerja. Itupun, karena saya diminta membaca sajak. Yang kedua, tahun 2004/2005, itupun karena menjadi MC acara sebuah vendor telekomunikasi, beberapa waktu setelah Tsunami di Aceh. Selebihnya, saya memilih tidur atau merenung-renung di kamar.
Akh, tentu bukan hanya saya saja yang demikian bukan? Tetapi begini, kawan… saya punya alasan tersendiri. Saya tidak mau latah!
Latah yang saya maksud, adalah latah di pengertian dasar, bukan pada apa yang dilakukan saat pergantian tahun.
Bermula dari jaman Babilonia sekitar 700-600SM, mereka memiliki mitos (dikenal dengan psedu sains) bahwa alam semesta seperti selungkup. Bumi adalah lantai sementara langit sebagai atap. Hebatnya, mereka telah mengenal ekliptika atau bidang edar matahari dan menentukan perhitungan 1 tahun yaitu 1x matahari beredar kembali ke tempat semula, sama dengan 365,25 hari.
Namun, sejarah mencatat Thales (624-546 SM) sebagai tonggak sejarah, berasal dari Yunani, seorang astronom dan ahli matematika serta teknik. Dialah orang pertama yang mempertanyakan asal usul semua benda di alam raya.
Anaximander juga orang Yunani lain yang berperan dalam perubahan pola berpikir manusia. Jaman ini, masih beranggapan bumi sebagai pusat tatasurya, dikenal dengan istilah geosentris, artinya, matahari juga dianggap berputar mengelilingi bumi.
Sampai akhirnya, muncullah seorang bernama Nikolaus Copernicus (1473-1543) dengan bukunya “De Revolutionibus Orbium Caelestium” ditulus tahun 1507. Dan tercetuslah teori Heliocentrisme. Inti teori itu menyatakan bahwa mataharilah sebagai pusat tatasurya, bulan beredar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. Dan bumi juga berputar pada porosnya dari barat ke timur, sehingga menyebabkan siang dan malam.
Perputaran berporos bumi inilah yang kemudian menjadi patokan 24 jam sebagai 1 hari. Sementara perputaran bulan mengedari bumi hingga sampai di titik awal, dipergunakan untuk menghitung satu bulan. Nah, begitu juga dengan perputaran bumi pada matahari, dijadikan patokan menghitung satu tahun.
Masalahnya, satu tahun tidak berjumlah genap. Satu tahun matahari berjumlah 365,25 hari. Lantas, para ahli bersepakat untuk menggenapkan menjadi 365 hari. Dikemanakan yang 0,25 hari atau 6 jam itu? Tentu saja tidak dibuang begitu saja. Melainkan ditaruh pada setiap 4 tahun sekali, maka kita mengenal tahun kabisat (6jamx4=24 jam=1hari).
Berdasar dari hal inilah, saya berpendapat bahwa acara pergantian tahun yang luar biasa mewah ini, tak lebih dari sekedar perayaan semu, kecuali tentu saja pada tahun-tahun yang habis dibagi 4. Sementara untuk pergantian tahun 2009/2010, baru akan terjadi pada 1 Januari 2010 pukul 06.00.
Kalau belum memahami hal ini, tak mengapalah berpesta-pesta untuk hal semu. Tetapi, jika sudah tahu, aha! Semata pilihan…
Nah, bagaimana acara pergantian tahun anda kali ini?
Salam,
Surya HR Hesra
2 Januari 2010 pada 21:42
pintar…