<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Surya HR Hesra</title>
	<atom:link href="http://suryahrhesra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suryahrhesra.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Dec 2009 12:42:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='suryahrhesra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Surya HR Hesra</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://suryahrhesra.wordpress.com/osd.xml" title="Surya HR Hesra" />
	<atom:link rel='hub' href='http://suryahrhesra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tahun Baru; Latah di Pengertian Dasar</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/12/31/tahun-baru-latah-di-pengertian-dasar/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/12/31/tahun-baru-latah-di-pengertian-dasar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 12:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[“Tahun baru nanti mau kemana? Ada acara apa?,” berkali-kali pertanyaan itu datang pada saya. Terus terang saja, saya tidak menspecialkan tahun baru atau hari-hari besar lain, kecuali Idul Fitri. Sejauh yang saya ingat, seumur saya hidup, hanya dua kali saya melewatkan pergatian tahun beramai-ramai. Yang pertama saat saya berusia 11 tahun, kelas 1 SMP, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=43&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Tahun baru nanti mau kemana? Ada acara apa?,” berkali-kali pertanyaan itu datang pada saya. Terus terang saja, saya tidak menspecialkan tahun baru atau hari-hari besar lain, kecuali Idul Fitri. Sejauh yang saya ingat, seumur saya hidup, hanya dua kali saya melewatkan pergatian tahun beramai-ramai.</p>
<p>Yang pertama saat saya berusia 11 tahun, kelas 1 SMP, di kantor tempat ayah bekerja. Itupun, karena saya diminta membaca sajak. Yang kedua, tahun 2004/2005, itupun karena menjadi MC acara sebuah vendor telekomunikasi, beberapa waktu setelah Tsunami di Aceh. Selebihnya, saya memilih tidur atau merenung-renung di kamar.</p>
<p>Akh, tentu bukan hanya saya saja yang demikian bukan? Tetapi begini, kawan… saya punya alasan tersendiri. Saya tidak mau latah!</p>
<p>Latah yang saya maksud, adalah latah di pengertian dasar, bukan pada apa yang dilakukan saat pergantian tahun.</p>
<p><span id="more-43"></span></p>
<p>Bermula dari jaman Babilonia sekitar 700-600SM, mereka memiliki mitos (dikenal dengan psedu sains) bahwa alam semesta seperti selungkup. Bumi adalah lantai sementara langit sebagai atap. Hebatnya, mereka telah mengenal ekliptika atau bidang edar matahari dan menentukan perhitungan 1 tahun yaitu 1x matahari beredar kembali ke tempat semula, sama dengan 365,25 hari.</p>
<p>Namun, sejarah mencatat Thales (624-546 SM) sebagai tonggak sejarah, berasal dari Yunani, seorang astronom dan ahli matematika serta teknik. Dialah orang pertama yang mempertanyakan asal usul semua benda di alam raya.</p>
<p>Anaximander juga orang Yunani lain yang berperan dalam perubahan pola berpikir manusia. Jaman ini, masih beranggapan bumi sebagai pusat tatasurya, dikenal dengan istilah geosentris, artinya, matahari juga dianggap berputar mengelilingi bumi.</p>
<p>Sampai akhirnya, muncullah seorang bernama Nikolaus Copernicus (1473-1543) dengan bukunya “De Revolutionibus Orbium Caelestium” ditulus tahun 1507. Dan tercetuslah teori Heliocentrisme. Inti teori itu menyatakan bahwa mataharilah sebagai pusat tatasurya, bulan beredar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. Dan bumi juga berputar pada porosnya dari barat ke timur, sehingga menyebabkan siang dan malam.</p>
<p>Perputaran berporos bumi inilah yang kemudian menjadi patokan 24 jam sebagai 1 hari. Sementara perputaran bulan mengedari bumi hingga sampai di titik awal, dipergunakan untuk menghitung satu bulan. Nah, begitu juga dengan perputaran bumi pada matahari, dijadikan patokan menghitung satu tahun.</p>
<p>Masalahnya, satu tahun tidak berjumlah genap. Satu tahun matahari berjumlah 365,25 hari. Lantas, para ahli bersepakat untuk menggenapkan menjadi 365 hari. Dikemanakan yang 0,25 hari atau 6 jam itu? Tentu saja tidak dibuang begitu saja. Melainkan ditaruh pada setiap 4 tahun sekali, maka kita mengenal tahun kabisat (6jamx4=24 jam=1hari).</p>
<p>Berdasar dari hal inilah, saya berpendapat bahwa acara pergantian tahun yang luar biasa mewah ini, tak lebih dari sekedar perayaan semu, kecuali tentu saja pada tahun-tahun yang habis dibagi 4. Sementara untuk pergantian tahun 2009/2010, baru akan terjadi pada 1 Januari 2010 pukul 06.00.</p>
<p>Kalau belum memahami hal ini, tak mengapalah berpesta-pesta untuk hal semu. Tetapi, jika sudah tahu, aha! Semata pilihan…</p>
<p>Nah, bagaimana acara pergantian tahun anda kali ini?</p>
<p>Salam,<br />
Surya HR Hesra</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=43&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/12/31/tahun-baru-latah-di-pengertian-dasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendengar Akut</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/11/08/pendengar-akut/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/11/08/pendengar-akut/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 14:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/11/08/pendengar-akut/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tidak ingin didengar? Berdasar pengamatan yang tentu masih terbatas, saya mendapati bahwa semua orang ingin didengar. Apapun yang mereka ucap, apapun yang mereka rasa, apapun yang mereka bagi. Saya adalah pendengar yang akut (nanti saya jelaskan, mengapa), kendati jika sudah berbicara terkadang juga menjadi sangat bawel. Dua tahun terakhir selama saya tinggal di Jogjakarta, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=40&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa tidak ingin didengar? Berdasar pengamatan yang tentu masih terbatas, saya mendapati bahwa semua orang ingin didengar. Apapun yang mereka ucap, apapun yang mereka rasa, apapun yang mereka bagi.</p>
<p>Saya adalah pendengar yang akut (nanti saya jelaskan, mengapa), kendati jika sudah berbicara terkadang juga menjadi sangat bawel.</p>
<p>Dua tahun terakhir selama saya tinggal di Jogjakarta, saya membebaskan diri dengan berjalan-jalan seorang diri di sepanjang Malioboro. Apa yang saya perbuat? Sederhana, mendengar!. Saya senang duduk sembari mengobrol dengan bapak penjual gulali, salah satunya Pak Mamat yang sudah sejak tahun 90an berjual gulali keliling dan selama lebih 10 tahun, hanya menerobos inovasi dari warna gulali saja, untuk bentuk, tak jauh berbeda.</p>
<p>Begitu pula dengan Pak Kemat, seorang seniman angklung difabel yang biasa bekerja di depan salah satu hotel terkemuka di bilangan Malioboro. Jangan dikira Pak Kemat tidak terkenal, karakter yang dibangun Pak Kemat cukup kuat, siapapun yang pernah berjalan melewati lorong sepanjang Malioboro sayap timur itu, tentu kemungkinan besar pernah bertemu. Orang tidak akan menyangka jika beliau difabel mata dan telinga. Permainan angklung-nya luar biasa. Tentu timbul pertanyaan, jika memang sedemikian luar biasa, kenapa dia masih bertahan di jalan? Aha! Itu semata pilihan (haha! betapa senangnya saya dengan kalimat ini :p)</p>
<p><span id="more-40"></span></p>
<p>Bu Maryati, ia satu dari sekian banyak kuli pikul yang akan banyak anda temui di Pasar Bringharjo.  Ia akan menawarkan tenaganya untuk mengangkut belanjaan anda seberapapun beratnya, tanpa mematok bayaran. “Terserah saja, seikhlasnya,” kalimat khas Jawa. Ia termasuk yang pernah saya ajak duduk mengobrol sembari menikmati es dawet.</p>
<p>Ada beberapa penjual es dawet di dekat Bringharjo. Dalam beberapa kesempatan, saya mencobai semua. Apakah saya sekedar mencoba? Tidak… saya butuh mengobrol, saya butuh mendengar. Biasanya, saya akan mulai dengan pertanyaan klasik, “sudah lama berjualan dawet?,”. Percayalah, semakin lama mereka eksis dengan pekerjaan itu, semakin mereka punya kebanggaan atas eksistensi mereka.</p>
<p>Setelah itu, semua mengalir, mereka tidak akan sungkan bercerita mengenai apa saja, kehidupan keluarga, pendapatan per hari, persaingan, bahkan mereka tidak sungkan berbagi pendapat mengenai politik.</p>
<p>Kalau ditanya siapa saja yang pernah saya ajak ngobrol, saya nyaris lupa saking banyaknya. Penjual sate, penjual es sari tebu, penjual name tag dari baja, penjual cimol, penjual es campur dan bakso, penjual mainan-mainan anak, penjual akar wangi, satpam, juru parkir, penarik becak, penarik andong, dan lain-lain rasanya tak luput. Aha! hanya penjual lumpia yang belum, karena mereka sangat sibuk, bekerja cepat dan tentu merepotkan kalau saya bertanya-tanya. Ini kata lain dari, saya lebih menikmati memakan lumpia ketimbang mengobrol. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Apakah mereka ini orang yang biasa-biasa saja? Apakah ibu-ibu kuli gendong itu adalah perempuan lemah? Jangan gegabah. Mereka hidup, melakukan pekerjaan itu bukan semata karena uang!. Apakah keluarga mereka adalah orang-orang yang tidak berkecukupan secara ekonomi? Ada yang memang demikian, tetapi ada juga bahkan yang sangat bebas beban financial.</p>
<p>Artinya, uang bukan segala-galanya. Ibu Maryati dan banyak pekerja di bilangan Malioboro mengatakan bahwa ini adalah kebutuhan batin. Mereka bingung saat mereka harus berdiam diri di rumah, kendati terkadang kita merasa iba, kenapa setua itu masih bekerja keras?</p>
<p>Apa yang menyebabkan mereka tidak betah berada di rumah? Satu hal saja, karena sudah tidak ada yang bisa mendengar mereka. Saat  anak cucu mereka merasa lebih hebat karena sekolah ketimbang dirinya, maka ia akan mencari penghiburan lain di luar rumah.</p>
<p>Apakah hanya mereka yang berlaku demikian?</p>
<p>Seperti yang saya katakan, semua orang butuh didengar. Seorang dosen yang mungkin lebih tahu banyak hal disbanding mahasiswa-mahasiswa mereka, selalu butuh di dengar, meski apa yang ia sampaikan tidak menarik. Maka untuk keegoisan dengan dalih penghargaan, pendidik itu membuat kesepakatan untuk mematikan alat komunikasi selama kelas berlangsung.</p>
<p>Seorang artis, bukan siapa-siapa kalau suara-nya sudah tidak didengar lagi oleh masyarakat. Ia akan kehilangan pamor, kehilangan kelas dan tentu kehilangan kredibilitas. Seorang pemimpin, hanya akan menjabati peran yang semu selama ia tidak didengar oleh bawahannya. Seorang politikus, ia menjadi tong kosong saat tidak ada yang berusaha mendengar. Ia tentu tidak akan mampu menggerakkan massa untuk sepakat dengan suaranya.</p>
<p>Seorang marketing apalagi, saat ia hanya bisa menyampaikan dagangannya tanpa mencoba mengetahui kebutuhan konsumen, tentu ia akan menjadi seorang marketing yang tidak peka.</p>
<p>Saya yakin, kita semua sepakat bahwa kita semua butuh didengar. Saya, anda dan siapa saja. Bayi, anak, remaja, dewasa bahkan manula. Apapun ragam pekerjaan, status social dan lainnya. Didengar adalah sebuah kebutuhan yang mutlak.</p>
<p>Masalahnya, apakah kita juga akan bersedia menjadi seorang pendengar? Akh, itu semata pilihan.</p>
<p>Hal yang seringkali terjadi pada mereka yang memilih untuk menjadi pendengar ialah ia kehilangan kesempatan untuk bersuara. Kalau tak boleh dikatakan kehilangan kesempatan untuk buka mulut, mungkin yang lebih tepat ialah ia kehilangan keberanian untuk berpendapat. Ia menjadi takut untuk mengeluarkan suaranya sendiri yang memang sangat minim didengar, ia menjadi takut jika yang akan ia sampaikan akan terlihat keliru. Ia menjadi pengecut akibat kegusaran semu, akibat baying-bayang ketakutannya sendiri. Maka ia akan terus-menerus menjadi pendengar akut. Mendengar sudah seperti candu baginya. Bukan apa-apa, teman… ini berdasar pengalaman saya saja <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sehingga, butuh media lain, supaya si pendengar ini tetap didengar. Dan media itu (sejauh yang saya temui) adalah menulis. Sehingga saya menginsyafi, bahwa menulis adalah mendengar dengan kerendahan hati.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Pontianak,<br />
8 Nopember 2009<br />
08.08 PM</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=40&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/11/08/pendengar-akut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alegro</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/11/01/alegro/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/11/01/alegro/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 01:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Dengan segala macam maknanya, menikahlah. Jika kamu mendapat istri yang baik, kamu akan bahagia. Jika kamu memperoleh yang buruk, kamu akan menjadi filsuf. — Socrates (Filsuf Yunani 469-399 SM)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=36&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adakah sebuah kebetulan dalam hidup ini? Saya tidak percaya itu, kendati seringkali dalam beberapa hal, saya menyebutkan sebagai sebuah kebetulan. Tidak ada sebuah kebetulan yang sempurna dalam hidup, saya yakini itu. Setiap apapun itu, membawa pesannya tersendiri, termasuk pertemuan dengan seseorang.</p>
<p>Masih dalam bilangan dua minggu lalu, saya terlibat suatu acara di sebuah Hotel berjaringan se-Indonesia, di Pontianak. Seorang pekerja hotel melitas di hadapan, lantas saya sapa, “Mas, bisa saya minta air mineral?”. “Oh, tentu saja,” jawabnya ringkas, lantas berlalu dan tak sampai dua menit, kembali lagi, member saya sebotol kecil air mieral.</p>
<p>“Nggak ngopi saja, Mbak?,” katanya sambil menyodorkan air mineral itu. Saya tersenyum, pagi itu memang belum segelaspun.  “Nanti saja,” jawab saya. “Kalau Mbak mau, saya ambilkan, tanpa gula kan?,” sambarnya.  Spontan saya mengerutkan dahi.</p>
<p>Seakan mengerti pertanyaan dalam benak saya, yang tak sempat keluar, bagaimalna dia bisa tahu? Dia menjawab dengan sebuah senyuman dan berlalu. Dan tidak sampai lima menit kemudian, dia sudah kembali dengan secangkir kopi di nampan. “Dari semalam saya perhatikan, hanya Mbak yang minum tanpa gula,” kopi itu mulai berpindah tangan. Saya masih pasang senyum, tanpa bisa berkata.</p>
<p>“Alegro, Mbak… memang lebih kentara tanpa gula,” ucapnya lagi, memberi tabik lantas berlalu meninggalkan saya. Tak sempat saya ucap terima kasih, hanya senyum masih mengembang. “Hem, Alegro…,” gumam saya sembari mencecap.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><span id="more-36"></span></p>
<p>Sebuah sore, saya menerima pesan singkat dari seorang sahabat, mengabarkan ada sebuah tawaran kegiatan dari Hotel  di atas. Dan membutuhkan kami bertemu untuk membicarakan lebih lanjut, maka bergegaslah saya berangkat menuju tempat yang telah disepakati. Seorang lelaki yang baru saya kenal sudah menunggu. Saya dan sahabat saya menghampiri.</p>
<p>Kami memesan minuman, berbincang. Tetapi belum lagi membicarakan kegiatan itu. Saya menunggu. Lelaki itu dan sahabat saya begitu seru berbagi cerita mengenai dunia malam, alcohol, kaum hedonis, tentu saja saya lebih banyak menyimak, untuk hal tersebut, saya kurang faham. Sebetulnya, saya merasa nyaman dengan pembicaraan mereka, kendati saya kurang faham. Saya lebih tertarik dengan cara bertutur lelaki itu, tertarik dengan perjalanan hidupnya di dunia perhotelan. Untuk posisi yang cukup tinggi di Hotel tadi, ia termasuk low profile.</p>
<p>Baru sekitar dua bulan ia beserta assistennya dan dua orang pekerja lain di Pontianak. Dia bercerita, betapa berat upaya dalam pembukaan Hotel tersebut. Hotel yang saya maksud memang terbilang baru berdiri di Kota ini.</p>
<p>Di tengah perbincangan, kemudian datanglah seorang lelaki lagi, lelaki yang terlebih dahulu saya kenal. Ia lelaki yang memberitahu saya, nama kopi yang rasanya nikmat itu, Alegro. Ia datang membawa sebuah map berisi 4 amplop ber-cap nama hotel tempat mereka bekerja. Lelaki pertama, memilih sebuah amplop, membuka, dan menandatangani. Tidak ada yang mencurigakan, kecuali wajah kusut lelaki kedua.</p>
<p>Saya tersenyum pada lelaki kedua, sembari menggoyang telunjuk ke arahnya. Ia tersenyum, “Alegro memang enak dinikmati tanpa gula, Mbak…,” katanya. Aha! Saya masih belum tahu siapa nama lelaki itu.</p>
<p>Kami memesan makan, setelah makan tuntas. Lelaki pertama, menyodorkan map itu pada saya dan sahabat saya. “baca deh,” katanya. Saya mengernyit. “nggak pa-pa?,” saya mencoba meyakinkan. Ia mengangguk. Saya baca judul yang tertera, Resigning Letter. Saya semakin tidak mengerti.</p>
<p>Lalu saya bukai satu-persatu, keempat surat itu berisi persis, hanya penanda tangan di bagian bawah saja yang berbeda nama.  Saya kaget, tentu saja!</p>
<p>“Penerbangan pertama Sriwijaya besok, kami kembali ke Jakarta. Saya sengaja mengajak kalian ke sini, untuk berpamitan sebetulnya. Hanya, jika saya sampaikan di awal sebelum kita makan, tentu akan bikin ilfil, kan?,” Lelaki pertama member penjelasan. Tidak fair! Dalam hati kukatakan itu.</p>
<p>Saya menahan diri untuk tidak menanyakan alasan resign mereka yang serempak itu, tentulah ada masalah yang krusial.</p>
<p>“Tidak ada alasan untuk bertahan, kami sudah bekerja overload, tapi tidak ada penghargaan dari manajemen, dan kami sudah pada sebuah titik balik, merasa betul-betul sia-sia. Tidak ada alasan untuk bertahan,” kalimat itu terngiang-ngiang dalam benak saya.</p>
<p>Mungkin saya sentimentil, entah genangan di mata saya terbaca atau tidak oleh mereka. Sontak, saya lantas bercermin pada diri saya sendiri. Kalimat itu, ya… kalimat itu. Tidak ada alasan untuk bertahan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Seringkali kita (akh, tidak semua dari kita tentu saja) terjebak dalam sebuah posisi, kondisi dan situasi yang sangat tidak nyaman, sangat tidak diinginkan. Seperti sebuah pernikahan.</p>
<p>Diakui atau tidak, bukan sedikit pasangan yang terikat dalam pernikahan tidak menjalankan kehidupan dalam pernikahan itu secara seimbang (semoga saja, ini hipotesa yang ceroboh dari saya). Ada yang berusaha keras mempertahankan pernikahan itu dengan beragam alasan, anak yang seringkali menjadi kambing hitam. Tetapi benarkah demikian?</p>
<p>Dan tidak sedikit juga yang memilih untuk berpisah, bercerai.</p>
<p>Angka statistik memang menunjukkan bilangan yang tidak sedikit untuk kasus ini. Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Badan Peradilan Agama Makamah Agung, pada tahun 2007 penceraian di DKI Jakarta mencapai 6.218 kasus, terdiri atas istri gugat cerai suami 3.482 kasus, dan suami gugat cerai istri 2.115 kasus. Sedangkan pada tahun 2008 tercatat 5.193 kasus, terdiri atas istri gugat cerai suami 3.105 kasus, dan suami gugat cerai istri 1.462 kasus.</p>
<p>Apakah perceraian adalah sebuah aib?</p>
<p>Mungkin masih banyak frame masyarakat Indonesia yang beranggapan demikian. Tetapi saya tidak sepakat. Saya lebih sependapat kalau perceraian semata pilihan, begitupun dengan pernikahan. Mengenai kesakralan dari pernikahan itu sendiri, sepertinya itu perlu dikembalikan ke masing-masing individu sebagai personal yang independen.</p>
<p>Siapa tidak menghendaki sebuah pernikahan yang membahagiakan? Dan betul memang, dalam sebuah pernikahan pasti kerap muncul aral lintang, permasalahan, percekcokan, bahkan pertikaian jika memungkinkan. Tetapi saya rasa, itu semua tidak akan menjadi masalah berarti, jika masing-masing dari pasangan bisa menghadapi bersama, dalam porsi yang seimbang.</p>
<p>Tetapi, bagaimana jika pernikahan lantas hanya berfungsi seperti tameng saja? Hanya berisi kepura-puraan belaka? Sanggupkah untuk terus bertahan? Untuk apa? Apakah sekedar untuk mencipta kebohongan demi kebohongan? Menampakkan keharmonisan yang sesungguhnya semu. Untuk apa?</p>
<p>Jika tidak ada cinta lagi dalam sebuah pernikahan, atau memang tidak pernah ada cinta dalam pernikahan, untuk apa mempertahankan kebohongan dalam pernikahan itu sendiri?</p>
<p>Pasti, reaksi dari pendapat ini, akan beragam. Dimulai dengan pertanyaan, jika demikian, mengapa memilih menikah? Saya rasa beragam alasan bisa dikemukakan, bukan kapasitas saya merujuk alasan-alasan yang ada. Tetapi, yang perlu disadari bersama ialah, tidak semua pernikahan dilandasi keinginan bersama yang kuat, atau dengan kata lain, pernikahan bisa disebabkan banyak hal, perjodohan, kekalutan usia, status dan lain sebagainya.</p>
<p>Saya teringat perkataan seseorang, mengenai gunjingan orang-orang akan perceraian. Menurutnya, perceraian ataupun pernikahan sama saja. Kalau baik akan menjadi gunjingan, apalagi buruk.</p>
<p>Akh, secangkir Alegro dengan atau tanpa gula, resign atau bertahan di sebuah tempat kerja, meneruskan pernikahan atau bercerai, bukankah semata pilihan?</p>
<p>Tetapi sekali lagi, apakah perceraian merupakan sebuah aib?</p>
<p>The answer is yours!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam,</p>
<p>Pontianak,</p>
<p>1 Nov 2009</p>
<p>08.08</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=36&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/11/01/alegro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berapa Anggaran yang Anda Butuhkan untuk Berbelanja Buku?</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/10/22/berapa-anggaran-yang-anda-butuhkan-untuk-berbelanja-buku/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/10/22/berapa-anggaran-yang-anda-butuhkan-untuk-berbelanja-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 17:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Tentu saja jawaban ini akan sangat variatif. Saya sangat salut pada mereka yang memang menyediakan anggaran khusus untuk buku secara periodik. Saya sendiri seringkali keteteran dalam hal ini. Dan lebih sayang lagi, karena kesadaran untuk membaca datang sudah cukup terlambat. Semasa remaja, saya lebih senang megoleksi kaset. Parah, karena saat itu saya berpikir masih tinggal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=34&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tentu saja jawaban ini akan sangat variatif. Saya sangat salut pada mereka yang memang menyediakan anggaran khusus untuk buku secara periodik. Saya sendiri seringkali keteteran dalam hal ini. Dan lebih sayang lagi, karena kesadaran untuk membaca datang sudah cukup terlambat.<br />
Semasa remaja, saya lebih senang megoleksi kaset. Parah, karena saat itu saya berpikir masih tinggal dengan orangtua dan menjadi parasit lajang (baca: Ayu Utami) maka saya tidak segan menghabiskan hingga 75% pendapatan demi membeli. Namun menginjak remaja akhir saat mulai membacai buku Pram, mulailah saya berpikir akan jauh sangat bermanfaat jika saya mengoleksi buku saja.</p>
<p>Peralihan ini bukan tanpa sebab, era digital saat ini menyebabkan pergeseran yang luar biasa akan segala hal yang berbau analog, diakui atau tidak. Terutama dalam hal musik. Jamak kita ketahui bersama, penjualan kaset merosot tajam sejak digantikan dengan cakram digital. Belum lagi kemudahan mendownload di internet.</p>
<p>Sehingga pengoleksian kaset, bisa tergantikan dengan penyimpanan di folder-folder MP3 di PC atau laptop. Ironisnya, tidak sedikit juga stasiun radio yang justru tak memiliki diskotik, ruang mirip perpustakaan yang isinya arsip lagu. Alasan tambahan, karena kaset yang telah lama tidak diputar, seringkali tidak bisa diputar, kondisi lembab membuatnya berjamur. Itu mengesalkan.</p>
<p>Maka dengan kebutuhan dan pemahaman baru, saya memilih mengoleksi buku saja, ketimbang kaset. Belum banyak dan belum ada yang bisa dibanggakan akan yang saya miliki.</p>
<p>Sekali lagi, berapa anggaran yang anda butuhkan untuk berbelanja buku?</p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p>Ini semata soal komitmen. Berapapun anggaran yang disediakan. Meski kecil sekalipun, jika dilakukan secara periodik maka hasilnya akan terasa. Bayangkan jika setiap bulan, misal, paling tidak ada satu buku yang dibeli, tanpa terasa dalam 5 tahun, anda sudah memiliki 60 buku. Sebuah rak kecil di sudut kamar anda, tentu akan mempermanis ruangan. Tetapi, memang tidak ada buku yang seharga semangkuk mie!</p>
<p>Tanpa bermaksud tidak menghargai jerih payah para penulis buku, pada kenyataan, buku masih seperti barang mewah saja. Tidak menjadi soal bagi mereka ya;ng bekerja dengan penghasilan lumayan. Tetapi, saya menguatirkan teman-teman yang dari segi pendapatan saja sudah sangat pas-pas-an atau malah bisa dikatakan tidak cukup.</p>
<p>Sebelum saya coba paparkan teman-teman yang saya maksud ini, kita harus sepakat dulu bahwa membaca adalah hak siapa saja, membaca adalah sebuah bentuk kemerdekaan. Nah, setelah kita sepakat, saya lanjutkan.</p>
<p>Sepakatkah anda, jika minat baca akan sangat baik bagi jiwa-jiwa muda? Dimana rasa idealisme dan rasa ingin tahu masih sangat tinggi. Sering saya jumpai teman-teman tamatan SMU yang memilih bekerja, mereka mendapat honor (saya tak berani menyebut gaji) yang jauh dari cukup jika dikalkulasi.</p>
<p>Seorang capster di salon dengan brand besar yang membuka sekolah dan banyak cabang di seluruh Indonesia, memberikan honor per hari sebesar Rp. 13.000 (untuk makan dan transport) ditambah bonus Rp. 500 untuk klien yang melakukan hair spa, Rp. 1.000 untu Back Theraphy dan untuk treatment lain, tak ada insentif. Sebulan, yang dikantongi Rp. 250.000, kalau sedang banyak pelanggan, bisa mencapai 300 lebih, tapi tak pernah menembus 400, itu yang dibeberkan Ani (bukan nama sebenar), sudah 7 bulan menjadi capster dan mengeluhkan tak bisa resign, karena terikat kontrak selama dua tahun, dan butuh uang setidaknya Rp. 2 juta untuk menebus ijazah yang di tahan.</p>
<p>Begitupun banyak pekerja di toko atau pusat perbelanjaan, misalnya yang rata-rata penghasilan per bulan mereka sebesar Rp. 300.000 – Rp. 450.000. Mereka bekerja 8 jam, dalam satu shift seringkali bahkan mereka tidak punya waktu libur, kalaupun ada owner tempat mereka bekerja memberi libur, biasanya tanggal merah dihindari untuk off.</p>
<p>Wajar jika kita kecil hati dengan ini. Dalam sebuah situs, saya temukan bahwa untuk di Jakarta saja, UMP DKI Jakarta untuk tahun 2008 sebesar Rp. 1.069.865. Angka ini tentu akan lebih kecil di daerah lain. Baik, taruhlah dengan pendapatan itu, dianggarkan 5% (saya ambil dengan asumsi minimun) untuk membeli buku tiap bulannya, maka akan tersedia dana sebesar Rp. 53.493,25, kita bulatkan Rp. 53.500. Lantas, bagaimana dengan teman-teman yang berpenghasilan di bawah Rp. 500.000? Anda tentu bisa menghitung.</p>
<p>Saya jadi teringat lontaran kalimat seorang teman, “pemerintah gila sih, masak buku masih dianggap barang mewah, apalagi buku import, ppN-nya gede banget. Gimana bangsa ini bisa maju?”.</p>
<p>Tapi saya tetap optimis, minat dan rasa ingin tahu yang besar, bisa mendobrak belenggu itu. Sekali lagi, buku bukan barang murah, tak ada yang seharga semangkuk mie. Tetapi ini masalah komitmen!<br />
Nah, lantas berapa yang anda anggarkan untuk berbelanja buku?</p>
<p>Pontianak,<br />
09 10 09<br />
14.04<br />
(di tepi Kapuas, sampan melintas hulu hilir)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=34&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/10/22/berapa-anggaran-yang-anda-butuhkan-untuk-berbelanja-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan: Pengabian Absurd hingga Kutukan Sishypus</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/09/07/30/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/09/07/30/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 03:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang kalian pikirkan tentang hidup yang terjalani? Apakah hidup ini adalah sebuah pencapaian ataukah sebuah pengabdian? Saya yakin masing-masing dari kita memiliki definisi sendiri-sendiri. Begitu juga dengan saya. Jika hidup didefinisikan sebagai sebuah pengabdian yang berwujud, maka sepertinya saya harus berpikir keras untuk memastikan bahwa itu bukan suatu hal yang absurd. Kata pengabdian sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=30&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang kalian pikirkan tentang hidup yang terjalani? Apakah hidup ini adalah sebuah pencapaian ataukah sebuah pengabdian? Saya yakin masing-masing dari kita memiliki definisi sendiri-sendiri.</p>
<p>Begitu juga dengan saya. Jika hidup didefinisikan sebagai sebuah pengabdian yang berwujud, maka sepertinya saya harus berpikir keras untuk memastikan bahwa itu bukan suatu hal yang absurd.</p>
<p>Kata pengabdian sangat identik dengan perempuan. Entah dimulai dari mana. Mungkin budaya Jawa yang mula-mula mengajarkan itu di Nusantara, karena sepengetahuan saya, hal berbeda justru terjadi pada etnis-etnis Dayak, misalnya. Perempuan Dayak bukan hanya akan bekerja dan mengabdi di rumah saja (dalam hal ini dipingit), tetapi mereka jauh lebih berperan dalam perladangan, pengihupan keluarga.</p>
<p>Tetapi, mengabdi, tetap saja mengabdi. Nilai pengabdian yang sama yang saya temukan ialah keluhuran untuk meluruhkan segenap hidupnya semata demi suami dan anak. Terkadang suami menjadi dominant ketimbang anak. Tetapi tentu, hal ini mengalami pergeseran ketika jaman menyatakan dengan jelas, bahwa anak merupakan asset yang sangat penting untuk sebuah keluarga itu sendiri.</p>
<p>Apakah keterbatasan gerak perempuan untuk keluar dari sekedar lingkup keluarga hanya terjadi di nusantara? Ternyata tidak juga. Feminisme di Amerika sendiri pun perlu melakukan sebuah gerakan besar yang berjudul perjuangan.</p>
<p>Amerika Serikat, Negara yang sepertinya telah merdeka dari apa saja itu ternyata mencatat nama-nama seperti Elizabeth Cady Stanton, dalam Konvensi Hak-Hak Perempuan di Seneca Fall New York (1848), Lucy Stone dalam Konvensi Hak-Hak Perempuan (1850). Yang mana kedua kelompok ini kemudian berkoalisi dalam Woman’s National Loyal League (1863) yang diketuai Susan Anthony, dan pada tahun 1878 menyerahkan amandemen Konstitusi Amerika untuk hak pilih perempuan di Amerika.</p>
<p>Bagaimana perjuangan untuk hal ini? Butuh waktu panjang, yakni selama 41 tahun untuk sebuah pencapaian dengan perjuangan panjang yang melelahkan. Akhirnya di tahun 1919, amandemen hak pilih perempuan itu disetujui. Dan setahun setelahnya, di tahun 1920, perempuan Amerika telah menggunakan hak pilih.</p>
<p>Bagaimana dengan perempuan Indonesia? Pada pemilihan pertama, yang berlangsung tahun 1955 dimana saat itu Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan diganti Burhanudin Harahap selaku Perdana Mentri. Pada pemilu pertama tersebut, perempuan Indonesia telah berhak menjadi pemilih.</p>
<p>Tentu jauh berbeda kondisinya jika kita membandingkan . Sehingga bukan saja diinsyafi, tetapi disepakati bahwa perempuan Amerika berada baris depan perjuangan pergerakan perempuan. Bahkan belakangan saat perempuan Indonesia berhasil menggoalkan quota 30 persen dalam pemerintahan, ternyata ini masih lagi belum diimbangi dengan kesediaan atau lebih tepat kesiapan para perempuan itu sendiri. Terbukti banyak daerah tidak berhasil mmenuhi quota 30 persen yang ditetapkan.</p>
<p>Gerangan apakah sebetulnya yang terjadi? Tentu perlu sebuah pengkajian dan penelitian yang serius mengenai berbagai kemungkinan jawaban. Saya tidak berada di ranah itu.</p>
<p>Kembali ke sebuah kata yang sangat menarik, pengabdian. Berasal dari kata abdi yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung pengertian orang bawahan, pelayan, hamba. Dan untuk kata pengabdian sendiri berarti proses, cara, perbuatan mengabdi atau mengabdikan.</p>
<p>Jika disebut bahwa abdi ialah pelayan, maka bisa diartikan bahwa pengabdian ialah melayani. Pengabdian yang kentara dilakukan perempuan menikah ialah mengabdi untuk keluarga, ada yang menyebutnya sebagai sebuah dedikasi. Ada pula yang menyebutnya sebagai kewajiban pacsa nikah, ada juga yang menyebut sebagai tuntutan agama dan lain sebagainya.</p>
<p>Tetapi, saya kuatir jikalau bentuk pengabdian ini hanya berpengertian absurd belaka. Pengertian mengabdi pada keluarga yang disikapi dan difahami secara sempit, bukankah justru menjebak definisi pengabdian itu sendiri?</p>
<p>Manusia dilahirkan dengan dua hubungan besar yang tidak bisa dibantah, dalam ajaran Islam kita mengenal Habluminallah dan Habluminannas. Hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dan manusia. Dalam hal ini, manusia tidak akan terlepas dari kewajiban-kewajiban vertical.</p>
<p>Kewajiban vertical ini merujuk manusia, termasuk perempuan karena perempuan juga manusia untuk mengabdi tidak hanya pada lingkup terdekatnya saja. Keterbatasan pengabdian yang terbatas hanya pada rumah tangga, bukan tidak mungkin membuat perempuan terjebak di dalamnya. Padahal, perempuan tetap punya kewajiban untuk mengabdi terhadap sesame, dalam bentuk yang beragam tentunya.</p>
<p>Dominasi lelaki atau kesepakatan mainstream tak tertulis, seolah menyepakati pengabdian absurd ini menjadi legal. Kalau demikian hal-nya, apa bedanya dengan kutukan Sishypus dalam mitologi Yunani?</p>
<p>Bayangkan kehidupan perempuan menikah sehari-harinya. Bangun tidur dia sudah dihadapkan dengan rutinitas rumah yang itu-itu saja, dengan ritme yang melulu begitu . Rutinitas? Saya lebih cenderung menyebutnya jebakan. Sebuah rutinitas dapat dijalankan berdasar pilihan, tetapi tidak demikian dengan pengkondisian sebagai Ibu rumah tangga yang mutlak harus di rumah dengan dalih keharusan agama, misalnya.</p>
<p>Maka logika saya, menyatakan kondisi ini sama saja dengan kutukan Sishyphus dalam mitologi Yunani. Dimana Sishypus dikutuk memikul bongkah batu besar dan membawanya ke atas bukit hanya untuk menyaksikan batu itu terjatuh, lalu ia akan turun lagi mengangkut batu besar itu kembali demi mlihat batu itu menggelinding, begitu seterusnya. Bukankah ini sebuah jebakan kalau terlalu ekstrim disebut kutukan?</p>
<p>Prempuan butuh ruang, untuk mengapresiasi diri. Untuk siapa? Tentu saja untuk rumah tangga itu sendiri.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Surya HR Hesra</p>
<p>(Pontianak,  7 Sept 2009, 09:19)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=30&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/09/07/30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Latah Paten dan Hak Cipta</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/08/21/latah-paten-dan-hak-cipta/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/08/21/latah-paten-dan-hak-cipta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 15:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/08/21/latah-paten-dan-hak-cipta/</guid>
		<description><![CDATA[Tidak perlu latah hari ini. Belum tuntas perkara catut mencatut Batik, Angklung, Reog Ponorogo, Indang Sungai Geringging, hingga masalah Ambalat yang tak juga berujung berpangkal, kali ini giliran Tari Pendet. Tentu ini menimbulkan reaksi yang sekejap saja mampu menyulut emosi. Aih, warga Negara republik Indonesia ini memang gampang betul tersambar api amarah kiranya, kalau boleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=29&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak perlu latah hari ini. </p>
<p>Belum tuntas perkara catut mencatut Batik, Angklung, Reog Ponorogo, Indang Sungai Geringging, hingga masalah Ambalat yang tak juga berujung berpangkal, kali ini giliran Tari Pendet. Tentu ini menimbulkan reaksi yang sekejap saja mampu menyulut emosi. Aih, warga Negara republik Indonesia ini memang gampang betul tersambar api amarah kiranya, kalau boleh dengan ceroboh saya menyatakan demikian.</p>
<p>“Malaysia is truly Asia”. Gaung itu mamang betul-betul kentara, sehingga dari kredo-nya saja, paling tidak kita bisa sedikit menyimpulkan: jika tak sanggup menyusuri seluruh Asia, cukuplah datang ke Malaysia. </p>
<p>Memang harus diakui beragam suku bangsa kumplit di Negara ini, terutama untuk kumpulan Asia. Indonesia-pun menyumbang tidak sedikit penduduk di sana. Mulai dari pelajar hingga pekerja baik professional aupun ilegal (mau apapun tingkat pekerjaan mereka, mereka tetap pekerja, TKI).</p>
<p>Jika mendengar sekilas berita mengenai ulah Malaysia ini, memang kontan membuat jengkel juga. Tetapi sebentar, sepertinya kita juga tidak boleh menjadi gegabah latah hari ini. </p>
<p>Tentu masih segar dalam ingatan ketika tempe dipatenkan oleh Jepang. Lantas ada juga sesumbar isu, Batik Indonesia dipatenkan! Apakah demikian juga hal-nya dengan Tari Pendet yang sudah terlanjur masuk dalam bagian promosi wisata Malaysia?</p>
<p>Tapi sebentar, samakah arti dari paten dan hak cipta?</p>
<p>Dalam KBBI, Hak Cipta adalah hak yang melekat seketika atas karya yang dihasilkan seseorang. Sementara Paten adalah hak yang diberikan pemerintah kepada seseorang atas suatu penemuan untuk digunakan sendiri.</p>
<p>Apa yang terbaca di sini? Sangat jelas. Hak cita lebih bersifat personal. Siapaun bisa mendaftarkan hak ciptanya dengan prosedur yang tidak berbelit, pendaftaran Hak Cipta kepada Dirjen HKI (Hak Cipta Indonesia) hanya membutuhkan biaya Rp. 75.000 per item. Lantas dari sana, seorang pendaftar akan memperoleh surat keterangan terdaftar dengan nomor registrasi. </p>
<p>Lantas paten? Sangat berbeda, karena proses yang diperlukan untuk mematenkan sesuatu cukup panjang, bisa memakan waktu setahun lamanya. Awalnya, perlu mendaftar secara lokal, baru kemudian dibawa ke tingkat dunia. Selain prosedur yang panjang, biayanya pun tidak sedikit. Kelayakan pematenan pun akan dikembalikan kepada Dirjen HKI setelah dari sana.</p>
<p>Akankah Tari Pendet dipatenkan Malaysia seperti yang dikuatirkan rakyat Indonesia? Seperti halnya Batik Indonesia yang silam banyak sekali ditulis di berbagai milis, media cetak maupun elektronik bakal dipatenkan. Rasanya tidak cukup tepat juga menyebut demikian. Tanpa menuduh, tetai sepertinya jurnalis sendiri belum begitu faham perbedaan dasar pengertian antara hak cipta dan paten itu.</p>
<p>Dalam budaya dunia, kita tidak bisa mengesampingkan kemiripan demi kemiripan yang seringkali bahkan kita temui antara bangsa satu dan lain. Contoh paling mudah kita jumpai adalah ceritera Ramayana. Apakah cerita ini hanya milik India saja? Atau milik orang-orang Jawa belaka? Tidak bukan.. </p>
<p>Tetapi akan kita temui banyak sekali versi Ramayana dalam tiap pertunjukan belakangan ini. Missal, dalam pementasan Ramayana versi Bali, nampak sekali gaya stilir dalam sikap serta gerakan, dan salah satu ciri khas tari Bali adalah gerakan mata seperti mengerling, menatap, memandang, serta ekspresi wajah yang tersenyum, marah, atau tenang. Ciri-ciri inilah yang membedakan tari Bali dengan gaya tari klasik lainnya di Indonesia.</p>
<p>Pada versi Yogyakarta, lebih menyerupai wayang wong, dimana pertunjukan memerlukan seorang dalang yang membacakan kanda (jalan ceritanya). Digambarkan dalam perang menolong Sinta, Rahwana harus berhadapan dengan Jatayu (burung Garuda yang besar). </p>
<p>Yang menarik lainnya ialah, gerak selain adegan perang, semua gerak dilakukan dengan jengkeng di atas lutut. Hal ini berkaitan dengan sejarah bahwa tari tradisional ini semula hanya dipertontonkan di dalam Keraton saja. Baru setelah 1918 atas izin Sultan HB VII, dengan mendirikan sekolah tari Krida Beksa Wirama, wayang wong dan tari klasik seperti Bedhaya dan Serimpi dipelajari diluar keraton.</p>
<p>Masih ada pula Ramayana versi Jawa Timur-an, versi Birma, versi Thailand, versi Malaysia, dan tentu dari negara asalnya India. Apakah India lantas mencak-mencak dengan persamaan dan perbedaan ini? Tidak bukan? Mengetahui bahwa Ramayana selain karya Walmiki, konon di India sendiri  kira-kira ada 2300 versi Ramayana, tidaklah mengherankan bila penyebarannya di Asia Tenggara terdapat versi-versi baru yang agak berlainan dari yang asli.</p>
<p>Bukan hanya masalah pertunjukan atau versi Ramayana saja, tetapi masih banyak contoh lain. Contoh lain adalah budaya wayang serta gamelan antara Jawa dan Thailand.  Menurut musikolog Belanda, Dr. Jaap Kunst, justru peradaban gamelan Jawa dewasa ini sudah sangat berbeda dengan India. Dan jika ingin mencari gamelan luar negeri yang mirip-mirip Jawa, kita perlu mencarinya ke Thailand.</p>
<p>Ada berbagai sifat dan kesamaan di antara keduanya. Kendati bentuknya berlainan, tetapi fungsi seperti gambang, bonang, kendang, bedug, dan gong sama persis. Seorang ahli Belanda lain, Dr. Hazeu menyebut tentang wayang Jawa, yang murni sebagai pemikiran orang Jawa sendiri. Bahkan memungkinkan wayang Hindu diambil dari wayang Jawa, ini diindikasikan dari Bahasa yang digunakan. Sementara untuk wayang Thailand, kemungkinan besar diambil langsung dari orang Jawa atau Melayu. Seorang delegasi dari Thailand, Mr. Chau Sariman, mengemukakan bahwa ada dokumentasi yang menunjukkan wayang Thailand berasal dari Indonesia pada jaman Sriwijaya.</p>
<p>Itu hanya segelintir contoh saja, Batik dan kesenian pun demikian kiranya. Kesamaan itu rasanya tidak perlu dibesar-besarkan. Karena masing-masing pasti memiliki cirri yang khas yang bisa menjadi pembeda antara Negara satu dan lain. </p>
<p>Lantas, permasalahannya mana yang mau dipatenkan? Apakah jenis kesenian atau budaya itu? atau justru ‘corak’ atau versi-nya? Kalau ini berkaitan dengan barang, seperti batik misalnya, logo tertentu dengan kata BATIK bisa saja di-hak cipta kan, untuk menjadi brand, merek. </p>
<p>Dan aihhh… jangan latah akh.. dengan kata ‘paten’. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=29&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/08/21/latah-paten-dan-hak-cipta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Choice is Yours!</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/07/10/the-choice-is-yours/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/07/10/the-choice-is-yours/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 03:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Pernah saya heran dan tak habis pikir, bagaimana seseorang mencuci sebuah celana denim menghabiskan setengah kilo detergen. Luar biasa! pikir saya kala itu. Kalaulah celana itu habis dipergunakan membajak sawah, masih masuk akal, tetapi ini tidak. Saya duga paling celana itu baru berumur seminggu dari terakhir dicuci. Atau, pernah juga saya terheran-heran, bagaimana mungkin sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=9&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah saya heran dan tak habis pikir, bagaimana seseorang mencuci sebuah celana denim menghabiskan setengah kilo detergen. Luar biasa! pikir saya kala itu. Kalaulah celana itu habis dipergunakan membajak sawah, masih masuk akal, tetapi ini tidak. Saya duga paling celana itu baru berumur seminggu dari terakhir dicuci.</p>
<p>Atau, pernah juga saya terheran-heran, bagaimana mungkin sebuah keluarga, ayah, ibu, satu hingga dua orang anak dapat tinggal di sebuah gerobak rokok  yang terparkir sepanjang hari di sisi jalan? Sulit dijelaskan dengan nalar, melihat kondisi demikian. Bagaimana mereka bisa tidur? Bagaimana dengan masalah pencernaan mereka? Bagaimana dengan kehidupan suami istri? Tapi toh mereka bisa. Tapi bagaimana?</p>
<p>Atau, pernah juga saya memicingkan mata seraya mengernyit kening, saat saya berjalan-jalan di komplek perumahan kumuh dekat tempat pembuangan sampah. Bagaimana mereka bisa hidup dengan kondisi demikian? Apakah mereka sudah kehilangan sebagian indera, hingga tidak lagi perduli dengan aroma mix demikian?.</p>
<p>Atau, pernah juga saya mengumpat dalam hati, bagaimana bisa anak-anak kecil bawah lima tahun berkeliaran di jalan, tanpa pengawasan orangtua dan mereka tertawa-tawa bahkan saling goda saat menghitung uang hasil ngamen atau mengemis. Padahal mereka hanya tinggal dari gabungan kardus yang dikreasi darurat pada celah-celah gang perkotaan. Atau mereka tinggal di lapak-lapak yang menyisakan sedikit terpal untuk bergulung di malam hari. Bagaimana bisa?</p>
<p><span id="more-9"></span></p>
<p>Pun keheranan saya tidak jauh berbeda tatkala saya mendapati beberapa teman seringkali kalap jika sudah sampai di pusat perbelanjaan. Kalap tidak hanya dengan berbelanja saja, tetapi juga urusan <em>woman stuff</em> lainnya. Bahkan hingga rela menitipkan anak mereka ke penitipan anak yang memang menjadi salah satu fasilitas di pusat perbelanjaan itu. Atau sekedar nge-drop anak dan pengasuh di arena bermain yang perjamnya mematok harga Rp.25.000. Apa cukup satu jam? Oh, tentu tidak.. 3 sampai 5 paling tidak, belum lagi kalau acara belanja ditambah nonton, nyalon, dst..dst.. begitulah..</p>
<p>Pun, sama herannya ketika saya mendapati dimana seorang perempuan tetap bisa bertahan meski serumah dengan lelaki tempramen yang acapkali melakukan tindak kekerasan padanya, bahkan penganiayaan, secara fisik terutama.</p>
<p>Pun, juga sama tak habis pikirnya ketika saya menemukan seseorang yang begitu gigih, bekerja keras, bahkan hanya menyisakan beberapa jam bahkan menit untuk terpejam di sepanjang 24 jam seharinya.</p>
<p>Tapi kiranya, keheranan saya ini justru tidak beralasan, ketika sebuah jawaban besar mengemuka. Hanya satu saja saya duga: BIASA! TERBIASA!! KEBIASAAN!!.<br />
Maka betullah jika demikian, ‘ala bisa, karena biasa’.</p>
<p>…<br />
Manusia tentu bukan kecoa yang daya adaptasinya luar biasa. Manusia tetap mausia yang menurut saya hidup dengan nilai-nilai dan pandangan miliknya yang ia peroleh. Masalah kebiasaan ini yang menuntunnya menjadi berbeda antara satu dan lainnya.</p>
<p>Kebiasaan ini pula, dibentuk banyak factor. Saat seseorang tertutup dengan dunia luar, saat ia dengan angkuh tidak hendak membandingkan kondisi dirinya dengan orang lain, maka terjebaklah ia di situasi ‘terbiasa’ itu tadi.</p>
<p>Perubahan! Seseorang butuh perubahan. Bahkan yang sudah baik sekalipun, ia tetap perlu untuk mengarahkan diri menjadi lebih baik lagi. Tetapi tentu saja dengan standar yang berbeda antara satu dan lainnya.</p>
<p>Sehingga, apakah seseorang itu mau berubah untuk merubah hidupnya, semua masalah pilihan.</p>
<p>(kecuali untuk anak jalanan dan mereka yang termarginalkan..hm, nantilah saya pikirkan..:) )</p>
<p>Salam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=9&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/07/10/the-choice-is-yours/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diffabel Mainstream</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/07/03/diffabel-mainstream/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/07/03/diffabel-mainstream/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 18:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tidak mengenal Helen Keller? Nama ini sudah saya dengar dari cerita Ibu ketika masih berseragam putih merah. Dulu saya belum faham kalau yang kerap Ibu ceritakan tidak sekedar dongeng belaka. Baru setelah SMP, ketika saya menemukan sebuah buku cerita anak berjudul Helen Keller, di perpustakaan sekolah, saya menyadari Helen Keller betul-betul berwujud. Ada beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=10&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa tidak mengenal Helen Keller?</p>
<p>Nama ini sudah saya dengar dari cerita Ibu ketika masih berseragam putih merah. Dulu saya belum faham kalau yang kerap Ibu ceritakan tidak sekedar dongeng belaka. Baru setelah SMP, ketika saya menemukan sebuah buku cerita anak berjudul Helen Keller, di perpustakaan sekolah, saya menyadari Helen Keller betul-betul berwujud.</p>
<p>Ada beberapa tokoh yang saya ketahui mengenai perjuangan hidupnya. Tetapi entah kenapa, tidak seorangpun terlalu nyantel di kepala saya. Atau tidak pernah membuat saya terngiang-ngiang akan kisah hidupnya. Menurut saya, hidup seseorang, siapapun itu memang butuh perjuangan. Perihalnya, apakah nanti perjuangan itu akan berdaya besar, kososal, ataukah hanya sebatas untuk dirinya sendiri.</p>
<p>Berbeda dengan Helen. Saya melihat perjuangan yang dilakukan Helen untuk bangkit dari kondisi difabelnya sungguh luar biasa. Hellen yang kehilangan indera penglihatan dan pendengaran serta bicara, saat berusia 7 tahun karena panas tinggi membuatnya seringkali dianggap berperilaku tidak seperti manusia (baca: hewan). Hingga dalam usia awal 20an, Helen berhasil lulus di Radcliffe Colledge (cabang Harvard University) selama 4 tahun studi dengan predikat magma cum laude. Luar biasa tentu!</p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p>Tentu saja, Helen tidak bekerja sendiri. Banyak faktor yang kemudian serta merta mendukungnya. Kesadaran tinggi orangtuanya mendatangkan Anne Sullivan sebagai guru privat, kemudian keteguhan seorang Anne Sullivan sebagai seorang guru dan tentu saja kesempatan atas berpendidikan di sekolah formal untuk seorang diffabel yang rasanya perlu digarisbawahi.</p>
<p>Bayangkan kalau saat itu orangtua Helen tidak tergugah hatinya untuk membangkitkan Helen dari keterpurukan kondisi fisik, bayangkan jika mereka tidak berpikiran terbuka dan optimis akan masa depan Helen. Bayangkan jika orangtuanya memberatkan rasa malu akibat memiliki seorang anak yang difabel (hei, kita tidak bisa menutup mata, bahwa masih banyak yang menganggap kondisi difabel ini adalah sebuah aib yang memalukan).</p>
<p>Dan negara kita masih terlalu kaku dengan manusia-manusia difabel. Termasuk kita juga barangkali. Walau kemudian negara kita pun pernah mendapat sorotan lantaran berPresidenkan seorang yang notabene difabel.</p>
<p>Ohya, difabel sendiri sebetulnya hanya akronim dari Different Ability lebih tepatnya untuk mewakili ‘people with different ability’ itu tadi. Konstruksi pemahaman cacat sendiri sebetulnya sudah mengakar budaya sedemikian rupa, dengan bahasa-bahasa Negara yang saya pandang cukup ‘kejam’.</p>
<p>Tidak bisa dipugkiri rasanya, teman-teman difabel sering mendapat perlakuan diskriminasi, terutama dalam kesempatan bekerja. Padahal negara kita memiliki UU Ketenagakerjaan yang mengatur dengan jelas quota 1% untuk mempekerjakan diffabel. Termasuk pada lembaga-lembaga Negara. Tetapi pada kenyataaannya, hal ini sangat nihil dijumpai. Malah yang membuat saya lebih miris ialah saat Lembaga Swadaya yang mengusung isu kesetaraan hak (dan sebangsanya) justru seperti juga tak mengindahkan hal ini.</p>
<p>Contoh lain yang cukup membuat ngeri (seandainya kita hidup sebagai seorang difabel, heii..kemungkinan itu bisa saja toh?), ialah fasilitas public yang jauh dari ramah difabel. Padahal jelas pada PP no. 468 tahun 1998, mengatur bagaimana pembangunan fasilitas dan gedung publik harus ramah difabel. Tetapi rasanya tidak bisa kita jumpai hal tersebut di sekitar kita (atau mungkin luput dari mata saya, semoga saja demikian).</p>
<p>Sebagai contoh, yang beberapa kali saya temui, di Rumah Sakit yang jelas-jelas diakses oleh siapapun, tidak ada jalur khusus untuk difabel yang menggunakan kursi roda, kalaupun ada, tanjakan yang ada cukup tinggi atau sangat curam. Bisa dipergunakan, tetapi tetap harus dengan bantuan oranglain. Tidak memungkinkan seorang difabel untuk menaikinya sendiri. Ada juga yang lebih lucu, oke.. dilantai satu dibuatkan jalur khusus itu, tetapi di lantai dasar, malah tidak ada sama sekali. Jadi bagaimana mau dipakai?</p>
<p>Saya masih berharap ada seorang seperti Helen Keller, yang saat itu ia berkeliling ke 39 negara untuk berbincang dengan para presiden, mengumpulkan dana untuk difabel mata dan telinga, meski tidak perlulah mendirikan lembaga-lembaga baru serupa. Awalnya, saya berharap banyak pada mantan presiden RI itu untuk bisa nyinyir sedikit pada dunia, untuk bisa membawa perubahan pandangan, stigma dan tentu perubahan hidup bagi teman-teman difabel. Tapi apa mau dikata…</p>
<p>…</p>
<p><strong>KALAU</strong> teman-teman ke Jogja, dan berjalan-jalan ke bilangan Malioboro serta menyusuri sepanjang jalan pertokoan dengan berjalan kaki, teman-teman tentu akan menemukan ia. Namanya Kemat, ia pekerja seni yang kebetulan ‘berkantor’ di teras sebuah Hotel di sana. Sudah lebih 10 tahun ia bekerja di situ. Pagi, hingga sore. Jam 10 pagi, hingga 5 sore.</p>
<p>Kemat ialah pemain angklung. Dari jarak beberapa meter, tentu suara angklungnya sudah terdengar. Saya termasuk penikmatnya, tidak jarang juga saya request beberapa lagu, kendati ia kerap protes, karena lagu keroncong yang saya minta tidak semu bisa dilagukan dengan angklung, keterbatasan nada! Kemat memang ciamik dalam memainkan bilah-bilah bambu itu. Kemat, seorang difabel, berkarya di jalan.</p>
<p>Saya betul-betul menikmati permainan Kemat. Ia tidak melihat, pendengarannya pun ‘payah’. Sehingga, saya menduga kalau RASA-lah yang ia jadikan sebagai penikmat setiap permainannya. Sentuhan rasa itu yang kiranya tidak dimiliki tiap orang yang faham permainan angklung sekalipun. Maka saya setuju, penggunaan istilah DIFABEL (Different People Ability).</p>
<p>…</p>
<p>Permasalahan ini kiranya adalah sebuah konsep difabel mainstream yang dengan egois digulirkan oleh orang-orang yang mengaku ‘normal’. Mengubah kata ‘cacat’ menjadi ‘difabel’ saja tidak cukup! Perlu sebuah kesadaran general untuk menggagas itu menjadi seimbang.</p>
<p>Jumlah teman-teman difabel memang jauh lebih sedikit, hingga bisa dikatakan mereka termasuk minoritas (maaf, jika saya menjudge). Semoga saja, semangat Helen Keller juga bersemayam dalam dada teman-teman kita ini. Semoga saja mereka tidak terlena dengan ‘zona nyaman’ yang keliru atas keterbatasan fisik itu.</p>
<p>Suara difabel, tentu akan terdengar oleh telinga-telinga kita yang cukup dekat dengan mereka, yang saya yakin masih terlihat di mata kita. Seperti halnya Helen Keller yang butuh sosok Anne Sullivan. Teman-teman difabel juga butuh kita. Bagaimana menurut teman-teman?</p>
<p>Salam,</p>
<p>Hesra.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=10&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/07/03/diffabel-mainstream/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Euforia dan Pilihan Menjadi Diri Sendiri</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/06/29/antara-euforia-dan-pilihan-menjadi-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/06/29/antara-euforia-dan-pilihan-menjadi-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 18:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah merasakan sebuah euphoria yang luar biasa? Dimana kita tidak bisa melepaskan diri darinya? Seakan diri dan pikiran serta merta ikut terseret, terbawa arus, atau ikut berputar dalam kumparan? Pertujukan musik, isu atau berita hangat, buku popular dan lain sebagainya yang bisa menyulut keingintahuan untuk berkubang di dalamnya. Euphoria! Itu yang dalam beberapa hari terakhir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=16&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p>Pernahkah merasakan sebuah euphoria yang luar biasa? Dimana kita tidak bisa melepaskan diri darinya? Seakan diri dan pikiran serta merta ikut terseret, terbawa arus, atau ikut berputar dalam kumparan?</p>
<p>Pertujukan musik, isu atau berita hangat, buku popular dan lain sebagainya yang bisa menyulut keingintahuan untuk berkubang di dalamnya.</p>
<p>Euphoria!</p>
<p>Itu yang dalam beberapa hari terakhir ini saya rasakan. Berita meninggalnya Michael Jackson sangat menggemparkan dunia. Dalam sehari dua, seluruh wajah media dipenuhi cover beliau. Sehari dua, seluruh dunia mengelu-elukan beliau. Lantas, apa yang salah? Tidak ada. Hanya saya bertanya-tanya, sampai kapan euphoria ini akan berlanjut?</p>
<p>Ingatan saya melayang tegas saat-saat sulit antara era 90an. Tuduhan pelecehan seksual dan sikap orang kebanyakan yang men-stigma warna kulit MJ bahkan hingga sekarang, membuat banyak pengagum MJ merasa terintimidasi saat keterkagumannya diketahui orang lain. Mengakui mengagumi MJ, berarti harus bersiap-siap mendapat tatapan aneh bahkan tertawaan.</p>
<p>Tetapi, saya melihat sebuah euphoria di tanggal 26 Juni kemarin. Dimana seakan-akan setiap orang berbondong-bondong menjadi penggemarnya, ada pula yang menjadi pengagum dadakan. Semua seakan berbelasungkawa. Luar biasa! Tapi sampai kapan?</p>
<p><span id="more-16"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kecintaan tidak lahir dengan serta merta. Begitu pula kebencian atau selera tidak berubah seketika. Kendati banyak yang menaruh empati hingga simpati terhadap berita duka ini, tetapi yang antipati tetap saja antipati. Yang membuat saya berpikir adalah, bagaimana seseorang bisa menciptakan atau mendukung sebuah stigma, hanya berlandaskan selera! Sangat tidak fair.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bagi saya, sosok MJ bukan hanya sekedar sebuah figure musisi yang luar biasa. Tapi lebih dari itu. Michael Jackson adalah sebuah symbol mentalitas yang kuat untuk saya. Seseorang yang mampu mewujudkan standar ‘selera’ akan dirinya sendiri. Itu sungguh luar biasa (lagi, menurut saya).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tentu kita sering mendengar perkataan atau ajakan untuk selalu menjadi diri sendiri. Tentu kita juga berharap bahwa segenap diri kita ini, terbentuk dengan sebuah idealisme diri, berdasar ketetapan-ketetapan yang kita patok sendiri. Tetapi, apakah dalam kenyataan hidup, akan senantiasa demikian? Oho.. nanti dulu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Seringkali justru kita lahir atau berwujud karena sebuah tempaan yang tidak serta-merta itu bermuasal dari diri sendiri. Banyak bentukan yang kemudian melahirkan kita sebagai ‘aku’ yang tidak lagi murni. Disadari atau tidak, kita sudah terjebak di dalamnya. Contoh sederhana yang seringkali kita alami, missal saat kita menentukan standar-standar hidup, mulai dari konsumsi perut, apa yang melekat pada tubuh, hingga patokan-patokan pencitraan diri. Konsep diri, saya lebih senang menyebutnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Michael Jackson adalah orang yang mampu mematok konsep dirinya dengan egois (nah, saya mulai menuduh). Hei.. egois tidak selalu merujuk pada hal negative kan? Mudahnya begini, dia adalah sosok yang berani menentang arus. Ia menentukan definisi ketampanan menurutnya sendiri yang kemudian diejawantahkan pada diri sendiri. Diri sendiri sebagai media perwujudan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Membicarakan Michael Jackson tentu tidak akan terlepas dari metamorfosis wajah dan warna kulitnya. Berubah? Tentu saja! Tetapi, apakah sebetulnya perubahan itu mengganggu kita? Apakah perubahan itu mengusik kita? Ataukah.. perubahan itu membawa perubahan pada hidup kita? Apakah itu berpengaruh pada musikalitas dan prestasinya? Tentu tidak, lebih tepatnya tidak sama sekali!</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tetapi, mengapa justru ini yang menjadi bahkan terus menerus menjadi obrolan sandingan saat kita mendengar nama MJ, seakan sebuah imaje terbangun serta merta. Dan kenapa ini justru membuat seseorang kehilangan selera dalam melihat atau menghargai karya-karyanya? Bahkan seringkali saya mendengar media masih saja menyudutkan perubahan wajah dan warna kulit ini sebagai bentuk ketidakpercayaan diri MJ akan dirinya. Aihh, sama persis seperti yang pernah Oprah tuduhkan dalam sesi show-nya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saya memiliki sebuah pemikiran, entahlah, mungkin saya sedikit gegabah menyimpulkan. Dari kecil saya sudah berpikir, kalaupun memang betul MJ merubah (atas kemauan) sendiri warna kulitnya, itu mungkin dilakukan untuk menentang rasisme di dunia Barat akan kulit hitam. Saya berolok-olok dan berspekulasi dengan pemikiran sendiri, bisa jadi MJ memang sengaja melakukannya. Siapa tahu, ia memang ingin menunjukkan bahwa siapapun sebetulnya sama di atas muka bumi ini. Perbedaan warna kulit adalah hal konyol tetapi nyata menjadi peng-kasta penghuni bumi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Rasisme ini tidak hanya terjadi di belahan dunia barat saja, bahkan di Indonesia pun mengalami hal yang tidak kalah parahnya. Saya mau tidak mau jadi teringat akan sebuah karya Pram, Bumi Manusia (novel pertama dari Tetralogi Buru), yang menceritakan tentang pencarian identitas seorang Mingke. Seorang asli pribumi yang dikelilingi oleh orang-orang separuh atau blas seratus persen bukan pribumi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kembali ke MJ, kadang saya merasa MJ seakan mengolok-olok orang-orang kulit putih yang pongah yang masih saja menganggap diri mereka lebih baik dari kulit berwarna. Akh, mungkin pemikiran saya ini agak liar, karena saya melihatnya dengan frame yang berbeda. Tetapi sebetulnya, apa yang membedakan antara pemikiran saya dengan pemikiran lainnya yang berada di posisi kontra?</p>
<p class="MsoNormal">Entahlah! Beribu argument kiranya tak bisa menjawab dengan tepat.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;">Tetapi kiranya begini, (saya menduga dengan gegabah) kita memang seringkali tertipu secara kasat dengan apa yang membentuk kita. Tempaan-tempaan yang terbatas dan tidak luas, menjadikan sudut pandang kita saat melihat dan menilai sesuatu pun menjadi sempit. Ini masalah bagaimana seseorang mau menambah asupan nutrisi pengetahuannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;">Michael Jackson seperti yang pernah ia sampaikan dalam sebuah sesi wawancara, “I’m Peterpan in my heart”. Dalam mata saya, ia seorang manusia kebanyakan yang sama seperti kita semua, yang mencari kebahagiaan dalam bentuk dan perwujudan yang berbeda, dengan bekal yang berbeda pula. Tetapi kiranya, ia seorang pemimpi yang telah berhasil memiliki keindahan langit tinggi. Dan ia adalah orang yang sangat tangguh dalam menghadapi ‘laku’ (bukan peran) hidupnya sebagai Michael Jackson.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;">Betapa tidak. Bersama, kita bisa melihat bagaimana perlakuan<span> </span>penduduk bumi terutama media padanya. Dan, entah sampai kapan euphoria sepemangkat beliau ini akan usai…</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;">Lantas, pertanyaannya adalah: mampukah kita betul-betul menjadi diri kita sendiri?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;">Salam,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;">Surya HR Hesra<br />
29 Juni 2009<br />
00.48</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=16&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/06/29/antara-euforia-dan-pilihan-menjadi-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salam, Welcome..</title>
		<link>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/06/22/salam-welcome/</link>
		<comments>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/06/22/salam-welcome/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 00:16:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suryahrhesra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suryahrhesra.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya merencanakan untuk memiliki sebuah blog lagi dengan karakter tulisan berbeda dari yang saya miliki sebelumnya. Saya ingin menulis dengan lebih ‘serius’ tetapi dengan tema sehari-hari. Begitu kira-kira pikiran yang pertama terbetik (entah apa nanti betul serius atau tidak), saat hasrat untuk menulis demikian menggebu. Dari semula saya menulis di blog, sebetulnya saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=8&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama saya merencanakan untuk memiliki sebuah blog lagi dengan karakter tulisan berbeda dari yang saya miliki sebelumnya. Saya ingin menulis dengan lebih ‘serius’ tetapi dengan tema sehari-hari. Begitu kira-kira pikiran yang pertama terbetik (entah apa nanti betul serius atau tidak), saat hasrat untuk menulis demikian menggebu.</p>
<p>Dari semula saya menulis di blog, sebetulnya saya sudah menghindari atau berupaya mengemohkan keinginan menulis dengan ragam tulis yang akan teman-teman temukan di blog ini. Bukan apa, saya merasa kurang kompeten untuk menulis hal-hal serius yang selalu menyita perhatian saya. Atau saya merasa tidak cukup percaya diri untuk menulis demikian.</p>
<p>Tetapi kemudian, saya menemukan sebuah kalimat yang luar biasa mencelat dalam benak saya dan sulit untuk tidak dipikirkan. “menulis adalah masalah keberanian”. Saya termenung-menung memikirkannya. Betul saja! Mumpung masih ada fasilitas gratis dimana saya bisa &#8216;bermasturbasi&#8217; dengan pikiran saya, dengan imaji yang seliar-liarnya, Catarsist dulu saya sering menyebutnya. Tapi ini lebih dari sekedar catarsist! Ada semangat yang bersemayam diluar lingkaran Catarsist itu!.</p>
<p>Jadi, mulai dengan lahirnya blog ini, maka saya memerdekakan diri saya untuk lebih bebas menulis mengenai apa saja. Tanpa perlu pengandaian atau analogi seperti sebuah prosa atau sastra atau sajak macam blog sebelumnya.</p>
<p>Saya tidak menyangkal jika nantinya tulisan-tulisan di sini akan terbaca kasar (sekasar penulisnya..:p). Ini semua masalah proses! Hidup pun berproses. Mencapai hidup saya di angka 26, bukan proses yang singkat bagi orangtua saya dan saya. Begitupun dalam saya menulis. Sebuah harapan tentu saya tanamkan, semoga proses itu mengarah ke jarum positif.</p>
<p>Menulis dan menulis!<br />
Membiasakan diri dengan menulis. Dan menulis saja tanpa ragu, kiranya itu konsep blog saya ini.</p>
<p>Kita bertemu lagi, teman!</p>
<p>Salam,</p>
<p>Surya HR Hesra</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suryahrhesra.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suryahrhesra.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suryahrhesra.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suryahrhesra.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suryahrhesra.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suryahrhesra.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suryahrhesra.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suryahrhesra.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suryahrhesra.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suryahrhesra.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suryahrhesra.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suryahrhesra.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suryahrhesra.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suryahrhesra.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suryahrhesra.wordpress.com&amp;blog=8112049&amp;post=8&amp;subd=suryahrhesra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suryahrhesra.wordpress.com/2009/06/22/salam-welcome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f3dd5c52bca84172dc7f4cfa85259060?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suryahrhesra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
